Selasa, 06 Maret 2012

[Cerpen] Kekasihku adalah Kekasihnya

Langit masih tampak gelap, padahal jarum jam sudah menunjukkan angka setengah enam pagi, udara dingin yang  masih memaksa masuk dari jendela kamar, membuat diriku semakin enggan beranjak dari pembaringan,  ingin rasanya kusembunyikan kembali tubuhku dibalik selimut dan kulanjutkan mimpi indahku. Tapi tiba-tiba aku teringat pesan Bu Yulis, atasanku, ia memintaku  datang lebih awal hari ini.  Bergegas aku bangkit dan merapikan tempat tidurku, lalu segera menyiapkan diri untuk berangkat ke kantor, aku tidak mau mendengar nyanyian panjang  perawan tua ini hanya karena keterlambatanku.
********
Tepat jam 7 aku sudah tiba di kantor, suasana masih sepi, hanya ada Pak Satpam  yang sudah duduk manis di mejanya. Setelah memberi salam selamat pagi pada Pak Satpam, segera aku menuju ruangan kerjaku, kulihat Bu Yulis pun belum tiba. Masih sempat buat sarapan nih, pikirku, maka  kuambil satu sachet sereal di laci meja dan segera aku menuju pantry.
Sambil membuat sereal, pikiranku kembali pada perjalananku ke kantor pagi ini.  Kemana lelaki paruh baya itu? Biasanya setiap pagi aku melihatnya sedang mencuci motor merah kesayangannya. Ya, seorang lelaki paruh baya yang tinggal di ujung jalan, dan tampaknya Ia tinggal seorang diri, karena tak pernah ku lihat orang lain di rumah itu, selain dirinya.
Andai ku kenal dia, andai benar dia masih single, bakal kujodohkan dengan Bu Yulis, biar perempuan tua itu gak cerewet lagi hihihi .. pikiran iseng pun mulai muncul di kepalaku.
Tidak lama kemudian Bu Yulis tiba, rupanya Ia mau mengajakku ke Jakarta entah untuk keperluan apa.
********
Macetnya Jakarta selalu membuatku bete setiap kali harus menginjakkan kaki di kota ini, perjalanan yang seharusnya bisa ditempuh dalam waktu 45 menit, bisa memakan waktu hampir 2 jam.
Rupanya Bu Yulis mengajakku ke sebuah kantor akuntan publik, dan dengan jelas ku dengar Ia ingin menemui seseorang bernama Hendra saat resepsionis menanyainya.  Kami pun diantarnya ke sebuah ruang tamu di dalam kantor tersebut.
Tidak lama kemudian masuklah seorang laki laki ke dalam ruangan, tersenyum menyambut kehadiran kami, wajahnya tidak asing bagiku, karena laki laki inilah yang setiap pagi kutemui sedang asik dengan motornya.
Pantas pagi ini aku tidak melihatnya, rupanya ia ada di sini, pikirku

Hendra, demikian ia menyebut namanya , dan aku hanya bisa tersenyum, sebenarnya ingin ku bilang, kalau aku ini tetangganya, tapi segera ku urungkan,  Dan tak kukira, tak kuduga, rupanya Ia mengenali aku, terbukti dengan ucapannya, ” Adik ini yang setiap pagi naik becak pergi ke kantor ya
Iya Om nama saya Mira” dengan perasaan lega aku menjawabnya.
Sesuai dengan tujuan awal kedatangan kami, maka Bu Yulis mulai membicarakan keperluannya dengan Om Hendra, sedangkan aku menjadi pendengar dan mencatat hasil pembicaraan tersebut.
********
Perkenalan di kantor itu menjadi awal cerita baru antara aku dan Om Hendra, setiap bertemu pasti kami saling menyapa, bahkan kami pun bertukar nomor hape. Om Hendra ternyata sangat ramah dan cukup terbuka, ia  tidak sungkan menceritakan pengalaman hidupnya kepadaku. Sebuah cerita hidup yang membuat aku kagum padanya.
Selama ini Om Hendra memang hidup sendiri, 4 tahun lalu istrinya meninggal karena Kanker Paru Paru.
Selama 15 tahun menikah mereka tidak dikaruniai seorang anak pun. Berbagai usaha sudah mereka lakukan termasuk program bayi tabung namun semua gagal. Sampai pada akhirnya usaha mereka berhenti karena istrinya tervonis kanker paru-paru.
Selama istrinya sakit, Om Hendra lah yang selalu menemani dan merawatnya, sampai operasional usahanya pun di serahkan kepada adiknya, maka dari  itu sampai sekarang  ia lebih banyak diam di rumah, kecuali bila ada kasus khusus, baru ia datang ke kantor.
Ketika ajal menjemput istrinya, ia  sangat kehilangan, namun  merelakan karena menurutnya, walaupun harus kehilangan, ia merasa istrinya sudah terlepas dari segala sakitnya.
Ketika aku bertanya, mengapa Om Hendra tidak menikah lagi?
Ia menjawab, bahwa Ia tidak bisa melupakan istrinya. Tapi dengan jujur Ia berkata, bahwa sudah 2 tahun  ini Ia sedang dekat dengan seseorang, namun tidak mungkin dapat menikahinya
Kenapa? Begitu tanyaku
Gak apa-apa, jawabnya. Aku pun tidak bertanya lebih lanjut.
Begitu besarnya kah sebuah cinta dan kesetiaan sehingga tidak dapat tergantikan.
Aaah… Mengapa aku semakin mengangguminya, bukan hanya kagum sepertinya, aku mulai menyukainya, padahal lelaki ini lebih pantas menjadi ayahku, daripada menjadi suamiku, apa karena aku tidak punya ayah sejak kecil, sehingga sosok Om Hendra begitu pas denganku. Berbeda sekali dengan Vijay kekasihku….
******
Sudah menjadi kebiasaan, bila jam makan siang, kami selalu pergi ke Mall yang letaknya persis di depan kantor. Selain untuk makan siang, kadang sisa waktu kamu gunakan untuk cuci mata.
Tapi siang ini mengapa tiba tiba mataku seperti melihat Om Hendra sedang berjalan di depanku. Ragu untuk memanggilnya, takut salah orang dan ku putuskan untuk diam saja.
Sambil menunggu makanan datang, iseng aku sms Om Hendra menanyakan apakah benar ia sedang berada di mall yang sama denganku.
Ternyata mataku memang tidak salah, Om Hendra memang sedang disini bersama seseorang yang pernah di ceritakannya dulu.
Penasaran ingin melihat kekasih Om Hendra, aku pun segera menuju restoran tempat Om Hendra makan siang.
Kulihat Om Hendra melambaikan tangannya padaku, tanda ia memberitahu posisinya. Aku pun berjalan ke arahnya, tak ku lihat seorang wanita di sana, hanya seorang lelaki muda seusiaku yang sedang duduk di hadapannya.

Mira ….???

Vijay….???”

Aku pun segera pergi tanpa pamit, berlari bersama runtuhnya rasa kagumku pada Om Hendra. Tentang agungnya cinta, tentang tulusnya kesetiaan yang pernah diceritakannya,  seketika  hancur  berkeping keping bersama kenyataan bahwa kekasihku adalah kekasihnya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar