Kamis, 08 Maret 2012

[Catatan] Aku Belajar dari Asma Anakku

Saya memiliki 2 anak laki-laki, pengalaman saya mengurus dan merawat anak saya yang pertama berbeda dengan anak yang kedua, dari sisi kondisi kesehatan. Anak pertama saya hampir dikatakan jarang sekali sakit, meskipun tubuhnya  lebih kecil dibanding teman-teman sekolahnya, dan Ia juga sangat aktif. Berbeda sekali dengan anak saya kedua, lebih sering mengunjungi dokter, mengapa? karena anak saya yang kecil ini menderita Asma.

Minimnya informasi yang saya ketahui mengenai asma, sempat membuat saya bingung dan membiarkan anak saya mendapatkan terapi untuk TBC yang seharusnya tidak perlu (lihat tulisan saya yang berjudul Ketika Dokter Salah Mendiagnosa Anakku).  Seiring berjalannya waktu dan dengan pengalaman-pengalaman merawatnya bila sakit, saya pun sudah mulai peka bila anak saya mulai batuk, apakah batuknya karena asma  atau batuk biasa, meskipun seringkali batuk dan pilek  bisa menyebabkan asmanya kambuh. Dari  caranya bernafas pun saya sudah bisa membedakan, apakah asmanya ini mulai mengusiknya atau tidak.

Tanggal 6 Maret lalu, saya membaca sebuah artikel di Health Kompas.com,  berjudul anak asma berisiko tinggi terkena Herpes zoster, disana disebutkan bahwa  dari total 277 anak-anak yang tidak memiliki riwayat cacar, peneliti menemukan bahwa anak pengidap asma 2,2 kali lebih berisiko mengidap cacar (herpes zoster) ketimbang mereka yang tidak menderita asma. Herpes zoster lebih dikenal cacar air, cacar api adalah penyakit infeksi pada kulit yang disebabkan virus Varicella Zoster.
Artikel ini seolah menjawab pertanyaan saya, mengapa anak saya terkena herpes zoster, padahal saat itu disekolah maupun di lingkungan rumah tidak ada yang sedang menderita penyakit tersebut.  Analisa saya saat itu adalah, kemungkinan penyebabnya adalah karena daya tahan tubuh anak saya sangat lemah, ditambah, Ia pernah tertular cacar air pada saat usia 14 hari.

Beberapa bulan sebelum menderita Herpes Zoster, anak saya ini juga menderita Gondongan atau Mumps atau Parotitis, yaitu infeksi virus (paramyxovirus) yang menyerang kelenjar ludah (parotis) diantara telinga dan rahang sehingga menyebabkan pembengkakan pada bagian leher atas atau pipi bagian bawah. Seperti halnya kasus herpes zoster di atas, kemungkinan besar penyebabnya karena daya tahan tubuh anak saya yang lemah dan saya hanya memberikan imunisasi dasar lengkap, pemberian imunisasi MMR seharusnya dapat mencegah terinfeksinya virus ini.

Berdasarkan pengalaman saya merawat anak saya ini dan berdasarkan literatur yang saya baca dan yang sesuai dengan apa yang anak saya alami (saya mengalami terlebih dahalu, baru menemukan literaturnya) berikut adalah penjelasan detail mengenai asma pada anak.
Menurut dr Darmawan B Setyanto dari Pusat Asma Anak Sudhaprana Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo,  gejala asma yang muncul pada anak berbeda dengan dewasa.

  • Gejala Asma pada anak tidak selalu ditandai dengan sesak dan wheezing (berbunyi ‘ngik’), kadang yang menonjol hanya batuk, tetapi bukan sembarang batuk, melainkan batuk yang membandel, berlangsung lama (dua minggu atau lebih) atau sulit sembuhnya, membaik sebentar lalu timbul lagi, atau timbul berulang dalam selang waktu pendek.

  • Batuk asma pada anak mempunyai ciri lain, yakni lebih berat pada malam atau dini hari dan saat bangun tidur. Pada siang hari bisa tidak ada gejala batuk sama sekali, sedangkan pada malam hari batuk demikian hebat.  Pada bayi dan anak balita, batuk hebat ini terkadang diikuti dengan muntah berisi lendir.

Kondisi batuk seperti di ataslah yang dialami anak saya. Andai saya mendapatkan literatur ini beberapa waktu lalu, tentu saya langsung mencari dokter yang lebih ahli, yang khusus menangani asma pada anak, sebelum membiarkan anak saya mengkonsumsi obat untuk terapi TBC yang seharusnya tidak diperlukan.
Masih menurut dr Darmawan, penderita asma tidak boleh diberi antitusif karena penekanan refleks batuk pada asma justru akan merugikan. Batuk asma baru akan mereda jika diberi obat asma.
Hal ini juga yang saya alami, saat saya belum dapat mengenali gejala batuk asma pada anak saya, saya pun pernah memberinya obat batuk, yang terjadi batuk tidak mereda malahan bertambah hebat.
************
Meskipun terlambat, karena anak saya sudah mengkonsumsi  obat TBC selama 1 bulan, saya membawa anak saya ke Pulmunolog Anak dr. Nastiti.  Dari Beliau  saya mendapatkan penjelasan bahwa anak saya tidak menderita TBC, batuk membandel yang di alaminya karena asma.

Sebagian penyebab asma adalah alergi, sehingga dokter tersebut menyarankan saya untuk menghidari pencetus timbulnya alergi seperti

  • Udara Dingin, AC hanya dalam kondisi sejak, dan dijaga kebersihannya. Pencucian Filter AC maksimal 2 minggu sekali dan service AC 2-3 bulan/sekali.

  • Menghindari Debu, yang biasanya berasal karpet, kapuk, boneka, bulu hewan, tumpukan buku-buku, tumpukan baju.

  • Menghindari Asap Rokok

  • Makanan yang di hindari, Es, coklat, snack gurih yang biasa mengandung MSG, mie instans, seafood, tomat dan kacang tanah.

Meskipun sudah semaksimal mungkin menghindari pencetus alergi tersebut di rumah, namun karena anak saya sudah sekolah, membuat saya tidak dapat 100 % mengawasi dan menjaganya, seperti aktivitas yang berlebihan yang dilakukan di sekolah, kondisi ruangan kelas yang berdebu dan AC yang tidak di ketahui kotor atau tidaknya, adanya anak yang tetap bersekolah meskipun dalam keadaan sakit, seringkali menyebabkan kambuhnya asma anak saya ini. Hanya memberikan asupan makanan bergizi yang dapat saya berikan supaya daya tahan tubuhnya membaik.

Asma tidak dapat di sembuhkan, hanya dapat mengendalikannya dengan menghindari pencetusnya.

Kesimpulan yang dapat saya berikan dari hasil proses belajar yang saya peroleh dari kondisi yang dialami anak saya adalah :

  • Tidak semua batuk membandel disebabkan karena anak mederita flek paru/TBC, tapi bisa juga karena anak menderita asma

  • Bila kita ragu pada diagnosa yang diberikan seorang dokter, tidak ada salahnya kita mencari dokter yang lebih ahli di bidangnya

  • Mencari sumber informasi sebanyak mungkin, tapi perlu menjadi sebuah perhatian,  internet bukanlah untuk pengobatan melainkan hanya sumber informasi, kita tetap harus mengunjungi dokter, karena pengobatan yang tepat baru dapat diberikan melalui pemeriksaan fisik.

Inilah hasil belajar saya dari apa yang dialami anak saya, semoga hasil belajar saya dapat berguna bagi yang membaca.

sumber informasi disini

Tidak ada komentar:

Posting Komentar