Tia diterima di sebuah Perguruan Tinggi Negeri di Bogor melalui seleksi siswa berprestasi di sekolahnya. Dari puluhan siswa yang mendaftar hanya Tia yang lolos seleksi. Dengan bermodalkan hasil menjual sebidang tanah warisan kakeknya Tia pun melunasi semua biaya awal kuliahnya.
“Sisanya kita tabung ya Nak buat biaya kuliahmu semester depan, dan untuk keperluanmu sehari hari, Ayah usahakan mencari penghasilan tambahan, jaga dirimu baik baik dan belajar yang rajin supaya bisa cepet lulus” begitulah pesan Ayahnya sebelum keberangkatannya ke Bogor.
Karena baru pertamakali menginjakkan kakinya di Kampus Biru membuat Tia kebingungan, sambil berjalan, matanya pun berkeliaran mencari gedung tempat penerimaan mahasiswa baru. Berkali kali Ia hampir menabrak tiang penyanggah koridor yang ada di sepanjang jalan di dalam kampus itu, sampai tiba tiba ia mendengar teriakan seorang cowok “aduuuuuh…. sakit tau” Tia pun baru tersadar kalau kakinya sedang menginjak kaki orang tersebut. “Maaf Mas… Ga liat..” katanya sambil memasang senyum paling manis. “Makanya kalau jalan liat ke depan jangan tengok sana tengok sini” jawab cowok tersebut masih dengan nada kesal.
“Maaf sekali lagi ya Mas, sekalian nanya boleh ya, kalau gedung penerimaan mahasiswa baru dimana ya?” Tanya Tia. “Cari sendiri …..” jawab cowok itu sambil meninggalkan Tia yang masih kebingungan. “Buset…jadi cowok kok jutek amat ya” bisik Tia dalam hati.
Tapi tiba tiba cowok tersebut berbalik dan berteriak “Ehh….. Mba Mba sini! kamu calon mahasiswi baru ya? tuh gedungnya disebelah sana, Mba jalan aja lurus, nanti pas ketemu kantin belok kiri, dari situ Mba liat aja ada dua ruangan yang warnanya biru, nah disitu tempatnya. Hati hati jalannya ya, jangan meleng, ntar diseruduk banteng, dikampus ini banyak binatang buasnya soalnya..”
Lalu setelah mengucapkan terima kasih kepada cowok yang nyebelin itu, Tia pun berjalan mengikuti petunjuk yang diberikan tadi, Ia pun berjalan lurus hingga menemukan sebuah kantin lalu belok kiri. “Hmmm.. kok jalannya koridor gini ya ” bathin Tia, dengan rasa ragu Ia pun tetap berjalan dan menemui dua ruangan yang berwarna biru seperti yang dimaksud oleh cowok tadi. “Sialannnnn…. gue di boongin sama tuh orang, rupanya ini toilet bukannya gedung penerimaan mahasiswa baru “.
Dengan hati yang masih dongkol Tia berjalan menuju kantin, setibanya disana ia pun memesan minuman dan bertanya kepada penjaga kantin dimana letak gedung penerimaan mahasiswa baru dan setelah merasa yakin dengan penjelasan penjaga kantin ia pun membayar minumannya dan segera pergi menuju ke lokasi yang dijelaskan tadi. Ternyata lokasinya masih lumayan jauh, dibutuhkan waktu 15 menit untuk mencapainya.
Sialnya lagi urusan pendaftarannya pun mesti antri, terpaksalah Tia menunggu giliran, sambil mencari lokasi yang enak untuk duduk, Tia pun mengamati sekelilingnya, dan tanpa diduga-duga matanya pun tertuju kepada orang yang telah Ia injak kakinya dan membalasnya dengan “ngerjain” dirinya. Secara kebetulan orang itu pun berjalan ke arahnya, lalu secepatnya Ia berdiri dan mencoba bersembunyi agar tidak terlihat, sembari tetap memperhatikan orang itu. Hmm…..ternyata ia memasuki salah satu ruangan yang ada disekitar ruangan pendaftaran itu.
Setelah yakin bahwa orang tersebut telah memasuki ruangan itu, Tia pun segera mendekatinya dan mengamati dari kejauhan, ternyata ruangan itu adalah ruangan khusus untuk mahasiswa Pecinta Alam. Ada niat dalam dirinya untuk mengintip lebih dekat, akan tetapi berhubung antrian sudah mulai sepi, ia pun bergegas menuju ke ruang pendaftran untuk menyerahkan berkas dan dokumen yang diperlukan untuk pendaftaran dirinya sebagai mahasisiwi baru di kampus itu.
Setelah mendapatkan informasi dari petugas penerimaan mahasiswa baru itu bahwa pada tahun ini Orientasi pengenalan mahasiswa baru hanya berupa ceramah dari pembantu rektor mengenai kegiatan perkuliahan saja, dan tidak ada acara perploncoan, hati Tia pun riang gembira, karena Ia pun tidak menyukai kegiatan Ospek seperti itu. Baginya Ospek hanyalah ajang balas dendam dari senior kepada juniornya.
Begitu urusan pendaftaran selesai, Tia pun meninggalkan kampus, dalam perjalanan menuju tempat kostnya, Ia pun teringat kembali wajah cowok yang nyebelin itu “duuh..kenapa aku jadi mikirin dia ya….ah bodoh amatlah”
**********
**********
Hari pertama kuliah pun dimulai sudah, ada yang berbeda dalam dirinya, kalau biasanya Tia mengenakan pakaian putih abu-abu, kini Ia boleh mengenakan pakaian bebas untuk belajar di kampus. Karena teman-teman kuliahnya pun rata-rata pada cuek, sehingga Ia memilih untuk menyendiri di dalam kampus itu.
Seiring waktu berjalan, Tia pun sudah mulai terbiasa dengan kehidupan barunya menjadi mahasiswi, sehingga Ia berpikir untuk mengikuti kegiatan kampus di luar kegiatan belajarnya.
Di pilihnya kegiatan Pencinta Alam, karena Ia memang menyukai kegiatan tersebut, walaupun Ia tahu kondisi terburuknya Ia harus bertemu kembali dengan cowok nyebelin itu.
*********
Siang itu, usai kegiatan kuliah, Tia memberanikan diri untuk mewujudkan keinginannya mengikuti kegiatan Pencinta Alam, Ia pun berjalan menuju ruangan Pencinta Alam yang pernah dilihatnya dulu. Masih tersimpan rasa penasaran dalam hatinya kenapa cowok nyebelin itu dulu bisa berada di ruangan itu “Masa iya orang ga punya hati seperti dia bisa punya rasa cinta pada alam” gumamnya.
Tiba di tempat yang dituju, Ia melihat suasana di ruangan tersebut tidak seramai dulu, hanya ada seorang cowok yang sedang asyik di depan komputer.
“Permisi… Permisi” Tia berusaha memanggil cowok tersebut tapi tidak ada sahutan dari dalam. Dengan suara lebih keras Tia mengulangi sapaannya berkali kali, sampai cowok yang dimaksud menyadari kehadirannya.
“Siang Kak … maaf, Aku berisik ya…. abis dari tadi di panggil panggil ga ada sahutan sih. Aku Tia .. Mahasiswi semester 1 di sini, mau daftar ikutan kegiatan Pencinta Alam, gimana caranya yah?” Tia bertanya dengan wajah penuh senyum karena merasa bersalah sudah mengganggu cowok itu.
“Ooh … Tunggu sebentar ya, aku ambilin formulirnya ” jawab cowok itu.
“Makasih Kak..” jawabnya singkat.
“Ooh … Tunggu sebentar ya, aku ambilin formulirnya ” jawab cowok itu.
“Makasih Kak..” jawabnya singkat.
“Ini kamu isi dan besok datang jam 2 menemui Mas Dida di sini” kata cowok tersebut sambil menyerahkan selembar kertas kepada Tia.
************
Esoknya sesuai jam yg dijanjikan Tia kembali ke sana, dari kejauhan Ia melihat cowok nyebelin itu pun ada di sana.
“Aduuuh…kenapa tuh orang ada di sana juga…masa bodo ah.. kali ini ga boleh sampe kena di kerjain lagi ya Tia” tekadnya dalam hati.
“Aduuuh…kenapa tuh orang ada di sana juga…masa bodo ah.. kali ini ga boleh sampe kena di kerjain lagi ya Tia” tekadnya dalam hati.
“Selamat siang Mas, Aku Tia, mau ngembaliin formulir ini, terus katanya disuruh ketemu Mas Dida?” demikian Tia mengawali percakapannya dengan cowok tersebut
“Ooh.. mana sini formulirnya” dan formulir pun berpindah tangan. “Jadi namanya Lystia .. yakin bisa mengikuti kegiatan Pencinta Alam? jalan di jalan yang bagus aja ga becus” kata cowok itu dengan nada sinis.
“Ooh.. mana sini formulirnya” dan formulir pun berpindah tangan. “Jadi namanya Lystia .. yakin bisa mengikuti kegiatan Pencinta Alam? jalan di jalan yang bagus aja ga becus” kata cowok itu dengan nada sinis.
“Saya akan berusaha Mas… tapi boleh saya bertemu dengan Mas Dida?” kata Tia
“Saya Dida” jawab cowok yang selama ini dianggap nyebelin oleh Tia.
“Uuups… Maaf Mas… ” jawab Tia sambil menahan rasa kagetnya
“Saya Dida” jawab cowok yang selama ini dianggap nyebelin oleh Tia.
“Uuups… Maaf Mas… ” jawab Tia sambil menahan rasa kagetnya
“Masih niat bergabung dengan kami? Kalau masih mau, kamu harus bisa melewati tugas yang kami berikan, bila lulus, baru kamu kami terima..”
“Tugasnya apa Mas?” tanyanya nada perlahan.
“Tugasnya apa Mas?” tanyanya nada perlahan.
“Kamu lihat khan, di depan itu ada pahon kapuk, dan kapuk-kapuk tersebut berserakkan di area Taman Koleksi, nah tugas kamu ngumpulin kapuk kapuk tersebut selama 3 hari, hingga beratnya mencapai 1 kg”
“Apaaa Mas ?? Sekilo? Kenapa ga 5 kg sekalian Mas, kapuk khan ringan”
“Mau bantah?” tanya Dida dengan nada agak keras.
“Baiklah Mas..saya akan usahakan, makasih yah .. permisi” dengan lemas dan bercampur rasa kesal Tia pergi meninggalkan ruangan tersebut. “Huuuhh lebay banget sih tuh orang, untungnya aja cakep,hi.hi.hi “
Sementara itu, Iwan yang dari tadi mendengar percakapan mereka langsung menghampiri Dida, ” Gila Lu yee.. pasti Lu pengen ngerjain tuh anak khan”
“Biarin aja, gue pengen liat keseriusan tuh cewek”.
“Alaaah..bilang aja Lu demen..belaga mo ngetest segala, bukan kebiasaan Elu tau..”
“Jiaahh .. kok Elu yang sewot, bilang aja Elu juga demen”
“Anjrittt Lu .. Gue mah udah punya cewek. Ada juga Elu tuh yang jomblo”
“Aaahh…rese Lu..udah sono kerjain tuh tugas lo..”
*********
Perjuangan Tia untuk mendapatkan kapuk-kapuk itu pun di mulai, tidak ada kesulitan untuk mengerjakannya, karena dilakukan setelah kuliah usai. Tia cuek dengan orang orang sekitar yang menganggapnya kurang kerjaaan. Begitu tiba hari ketiga, dimana Tia sudah hampir selesai mengerjakan tugas tersebut tiba tiba hujan turun dengan derasnya, Tia pun panik “walaaaaah….hujaaaan … basah semua deh kapuknya” keluh Tia dalam hati sambil berlari mencari tempat berteduh.
Sementara itu dari balik jendela ternyata Dida memperhatikan apa yang dilakukan Tia setiap hari.
“Mengapa kamu mirip sekali dengannya?” bathinnya
Sementara itu dari balik jendela ternyata Dida memperhatikan apa yang dilakukan Tia setiap hari.
“Mengapa kamu mirip sekali dengannya?” bathinnya
********
“Hanya ini yang aku bisa kumpulin Mas.. terserah mau diterima atau ngak, yang penting aku sudah berusaha, asal Mas tau aja, Aku melakukan semua ini karena kecintaanku pada Alam, juga keinginanku untuk melihat bunga Edelweiss di puncak gunung sana, Mas pasti kecewa karena Aku tidak bisa memenuhi persyaratan itu, tapi gak apa apa, kalaupun gagal aku terima kok, dan Aku juga sudah mengubur impianku untuk bisa memilki setangkai Edelweiss itu, makasih buat kesempatannya, permisi ” kata Tia sambil menyerahkan kapuk kapuk yang berhasil ia kumpulkan dan segera meninggalkan Dida yang masih terdiam.
Edelweiss… ya karena setangkai Edelweiss Dida kehilangan Nina, gadis yang memiliki lesung pipit yang sama persis seperti Tia. Nina terpeleset dari tebing saat Ia mencobamemetik sendiri setangkai Edelweiss, karena Dida tidak pernah memberikan bunga impiannya itu. Tangannya tak mampu untuk meraih tangan Nina saat terjatuh.. Dida pun kehilangan Nina untuk selamanya ….
Sejak saat itu Tia tak lagi pernah datang ke ruangan Pencinta Alam, Ia berjanji akan fokus pada pelajarannya, dan menjalani kegiatan kuliah seperti biasanya.
*********
Hari ini, 14 Februari, tidak ada yang berbeda dengan hari hari lainnya dan sama seperti tahun-tahun sebelumnya, tidak ada bunga ataupun coklat yang diterimanya, hanya sms ucapan valentine dari teman-teman sekolahnya dulu.
“Mba… Mba Tia… ada tamu yang mencari Mba tuh” terdengar suara mbo Nem memanggilnya, Mbo Nem adalah pembantu yang selalu setia memanggil anak anak kost bila kedatangan tamu.
“Iya Mbo, makasih yah” Tia pun keluar kamar dan menemui tamunya..
“Hanya ini yang aku bisa kumpulin Mas.. terserah mau diterima atau ngak, yang penting aku sudah berusaha, asal Mas tau aja, Aku melakukan semua ini karena kecintaanku pada Alam, juga keinginanku untuk melihat bunga Edelweiss di puncak gunung sana, Mas pasti kecewa karena Aku tidak bisa memenuhi persyaratan itu, tapi gak apa apa, kalaupun gagal aku terima kok, dan Aku juga sudah mengubur impianku untuk bisa memilki setangkai Edelweiss itu, makasih buat kesempatannya, permisi ” kata Tia sambil menyerahkan kapuk kapuk yang berhasil ia kumpulkan dan segera meninggalkan Dida yang masih terdiam.
Edelweiss… ya karena setangkai Edelweiss Dida kehilangan Nina, gadis yang memiliki lesung pipit yang sama persis seperti Tia. Nina terpeleset dari tebing saat Ia mencobamemetik sendiri setangkai Edelweiss, karena Dida tidak pernah memberikan bunga impiannya itu. Tangannya tak mampu untuk meraih tangan Nina saat terjatuh.. Dida pun kehilangan Nina untuk selamanya ….
Sejak saat itu Tia tak lagi pernah datang ke ruangan Pencinta Alam, Ia berjanji akan fokus pada pelajarannya, dan menjalani kegiatan kuliah seperti biasanya.
*********
Hari ini, 14 Februari, tidak ada yang berbeda dengan hari hari lainnya dan sama seperti tahun-tahun sebelumnya, tidak ada bunga ataupun coklat yang diterimanya, hanya sms ucapan valentine dari teman-teman sekolahnya dulu.
“Mba… Mba Tia… ada tamu yang mencari Mba tuh” terdengar suara mbo Nem memanggilnya, Mbo Nem adalah pembantu yang selalu setia memanggil anak anak kost bila kedatangan tamu.
“Iya Mbo, makasih yah” Tia pun keluar kamar dan menemui tamunya..
“Haaah.. Dida? Ngapain orang itu ke sini” kata Tia dalam hati. Masih dengan wajah tidak percaya Tia menemui Dida.
“Hai… Apa kabar? Boleh minta waktumu yah” begitulah Dida memulai percakapannya
Mereka lalu duduk dan Dida pun kembali berbicara “Aku mau minta maaf, tidak seharusnya aku menjadikanmu pelampiasan rasa bersalahku pada seseorang, hanya karena kamu mirip dengannya”
Kemudian Dida mengambil tas dan mengeluarkan sesuatu dari dalamnya “Ini untukmu, terimalah sebagai permintaan maafku karena aku tidak mau kehilangan gadis manis dan baik sepertimu untuk kedua kalinya” sambil menyerahkan setangkai Edelweis kepada Tia, lalu dengan syahdu Dida berkata “Met Valentine ya, walaupun Aku baru mengenalmu, sejujurnya Aku ingin menjadi orang yang dekat dengan kamu”
Dengan senyum manis dan tanpa berkata apa apa, Tia pun menerima Edelweiss itu, yaa .. setangkai Edelweiss yang sudah lama diimpikannya.
” Aaah… Semoga ini bukan mimpi” katanya dalam hati
***********
“Hai… Apa kabar? Boleh minta waktumu yah” begitulah Dida memulai percakapannya
Mereka lalu duduk dan Dida pun kembali berbicara “Aku mau minta maaf, tidak seharusnya aku menjadikanmu pelampiasan rasa bersalahku pada seseorang, hanya karena kamu mirip dengannya”
Kemudian Dida mengambil tas dan mengeluarkan sesuatu dari dalamnya “Ini untukmu, terimalah sebagai permintaan maafku karena aku tidak mau kehilangan gadis manis dan baik sepertimu untuk kedua kalinya” sambil menyerahkan setangkai Edelweis kepada Tia, lalu dengan syahdu Dida berkata “Met Valentine ya, walaupun Aku baru mengenalmu, sejujurnya Aku ingin menjadi orang yang dekat dengan kamu”
Dengan senyum manis dan tanpa berkata apa apa, Tia pun menerima Edelweiss itu, yaa .. setangkai Edelweiss yang sudah lama diimpikannya.
” Aaah… Semoga ini bukan mimpi” katanya dalam hati
***********
Tidak ada komentar:
Posting Komentar