Kamis, 08 Maret 2012

[Catatan] Aku Belajar dari Asma Anakku

Saya memiliki 2 anak laki-laki, pengalaman saya mengurus dan merawat anak saya yang pertama berbeda dengan anak yang kedua, dari sisi kondisi kesehatan. Anak pertama saya hampir dikatakan jarang sekali sakit, meskipun tubuhnya  lebih kecil dibanding teman-teman sekolahnya, dan Ia juga sangat aktif. Berbeda sekali dengan anak saya kedua, lebih sering mengunjungi dokter, mengapa? karena anak saya yang kecil ini menderita Asma.

Minimnya informasi yang saya ketahui mengenai asma, sempat membuat saya bingung dan membiarkan anak saya mendapatkan terapi untuk TBC yang seharusnya tidak perlu (lihat tulisan saya yang berjudul Ketika Dokter Salah Mendiagnosa Anakku).  Seiring berjalannya waktu dan dengan pengalaman-pengalaman merawatnya bila sakit, saya pun sudah mulai peka bila anak saya mulai batuk, apakah batuknya karena asma  atau batuk biasa, meskipun seringkali batuk dan pilek  bisa menyebabkan asmanya kambuh. Dari  caranya bernafas pun saya sudah bisa membedakan, apakah asmanya ini mulai mengusiknya atau tidak.

Tanggal 6 Maret lalu, saya membaca sebuah artikel di Health Kompas.com,  berjudul anak asma berisiko tinggi terkena Herpes zoster, disana disebutkan bahwa  dari total 277 anak-anak yang tidak memiliki riwayat cacar, peneliti menemukan bahwa anak pengidap asma 2,2 kali lebih berisiko mengidap cacar (herpes zoster) ketimbang mereka yang tidak menderita asma. Herpes zoster lebih dikenal cacar air, cacar api adalah penyakit infeksi pada kulit yang disebabkan virus Varicella Zoster.
Artikel ini seolah menjawab pertanyaan saya, mengapa anak saya terkena herpes zoster, padahal saat itu disekolah maupun di lingkungan rumah tidak ada yang sedang menderita penyakit tersebut.  Analisa saya saat itu adalah, kemungkinan penyebabnya adalah karena daya tahan tubuh anak saya sangat lemah, ditambah, Ia pernah tertular cacar air pada saat usia 14 hari.

Beberapa bulan sebelum menderita Herpes Zoster, anak saya ini juga menderita Gondongan atau Mumps atau Parotitis, yaitu infeksi virus (paramyxovirus) yang menyerang kelenjar ludah (parotis) diantara telinga dan rahang sehingga menyebabkan pembengkakan pada bagian leher atas atau pipi bagian bawah. Seperti halnya kasus herpes zoster di atas, kemungkinan besar penyebabnya karena daya tahan tubuh anak saya yang lemah dan saya hanya memberikan imunisasi dasar lengkap, pemberian imunisasi MMR seharusnya dapat mencegah terinfeksinya virus ini.

Berdasarkan pengalaman saya merawat anak saya ini dan berdasarkan literatur yang saya baca dan yang sesuai dengan apa yang anak saya alami (saya mengalami terlebih dahalu, baru menemukan literaturnya) berikut adalah penjelasan detail mengenai asma pada anak.
Menurut dr Darmawan B Setyanto dari Pusat Asma Anak Sudhaprana Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo,  gejala asma yang muncul pada anak berbeda dengan dewasa.

  • Gejala Asma pada anak tidak selalu ditandai dengan sesak dan wheezing (berbunyi ‘ngik’), kadang yang menonjol hanya batuk, tetapi bukan sembarang batuk, melainkan batuk yang membandel, berlangsung lama (dua minggu atau lebih) atau sulit sembuhnya, membaik sebentar lalu timbul lagi, atau timbul berulang dalam selang waktu pendek.

  • Batuk asma pada anak mempunyai ciri lain, yakni lebih berat pada malam atau dini hari dan saat bangun tidur. Pada siang hari bisa tidak ada gejala batuk sama sekali, sedangkan pada malam hari batuk demikian hebat.  Pada bayi dan anak balita, batuk hebat ini terkadang diikuti dengan muntah berisi lendir.

Kondisi batuk seperti di ataslah yang dialami anak saya. Andai saya mendapatkan literatur ini beberapa waktu lalu, tentu saya langsung mencari dokter yang lebih ahli, yang khusus menangani asma pada anak, sebelum membiarkan anak saya mengkonsumsi obat untuk terapi TBC yang seharusnya tidak diperlukan.
Masih menurut dr Darmawan, penderita asma tidak boleh diberi antitusif karena penekanan refleks batuk pada asma justru akan merugikan. Batuk asma baru akan mereda jika diberi obat asma.
Hal ini juga yang saya alami, saat saya belum dapat mengenali gejala batuk asma pada anak saya, saya pun pernah memberinya obat batuk, yang terjadi batuk tidak mereda malahan bertambah hebat.
************
Meskipun terlambat, karena anak saya sudah mengkonsumsi  obat TBC selama 1 bulan, saya membawa anak saya ke Pulmunolog Anak dr. Nastiti.  Dari Beliau  saya mendapatkan penjelasan bahwa anak saya tidak menderita TBC, batuk membandel yang di alaminya karena asma.

Sebagian penyebab asma adalah alergi, sehingga dokter tersebut menyarankan saya untuk menghidari pencetus timbulnya alergi seperti

  • Udara Dingin, AC hanya dalam kondisi sejak, dan dijaga kebersihannya. Pencucian Filter AC maksimal 2 minggu sekali dan service AC 2-3 bulan/sekali.

  • Menghindari Debu, yang biasanya berasal karpet, kapuk, boneka, bulu hewan, tumpukan buku-buku, tumpukan baju.

  • Menghindari Asap Rokok

  • Makanan yang di hindari, Es, coklat, snack gurih yang biasa mengandung MSG, mie instans, seafood, tomat dan kacang tanah.

Meskipun sudah semaksimal mungkin menghindari pencetus alergi tersebut di rumah, namun karena anak saya sudah sekolah, membuat saya tidak dapat 100 % mengawasi dan menjaganya, seperti aktivitas yang berlebihan yang dilakukan di sekolah, kondisi ruangan kelas yang berdebu dan AC yang tidak di ketahui kotor atau tidaknya, adanya anak yang tetap bersekolah meskipun dalam keadaan sakit, seringkali menyebabkan kambuhnya asma anak saya ini. Hanya memberikan asupan makanan bergizi yang dapat saya berikan supaya daya tahan tubuhnya membaik.

Asma tidak dapat di sembuhkan, hanya dapat mengendalikannya dengan menghindari pencetusnya.

Kesimpulan yang dapat saya berikan dari hasil proses belajar yang saya peroleh dari kondisi yang dialami anak saya adalah :

  • Tidak semua batuk membandel disebabkan karena anak mederita flek paru/TBC, tapi bisa juga karena anak menderita asma

  • Bila kita ragu pada diagnosa yang diberikan seorang dokter, tidak ada salahnya kita mencari dokter yang lebih ahli di bidangnya

  • Mencari sumber informasi sebanyak mungkin, tapi perlu menjadi sebuah perhatian,  internet bukanlah untuk pengobatan melainkan hanya sumber informasi, kita tetap harus mengunjungi dokter, karena pengobatan yang tepat baru dapat diberikan melalui pemeriksaan fisik.

Inilah hasil belajar saya dari apa yang dialami anak saya, semoga hasil belajar saya dapat berguna bagi yang membaca.

sumber informasi disini

Rabu, 07 Maret 2012

[Humor] Obrolan Bajuri - Oneng Soal BBM

Bajuri yang sudah bosan narik Bajai akhirnya berhasil mendapat pekerjaan baru,  akhrinya tercapai juga cita citanya jadi pegawai kantoran. Meskipun hanya menjadi pegawai rendahan, tapi ia bangga menjalaninya,  karena  bisa pake dasi tiap hari, kayak bos-bos yang tinggal di gedongan, katanya.


Karena setiap hari ia melihat temen-temen kantornya asyik ber-bbm ria, ada yang senyum senyum sendiri, ada yang cekikikan sampe pada bergerombol kalau lagi diskusi gambar, semuanya itu membuat Bajuri penasaran pengen punya BB juga.


Hingga suatu hari, Bajuri pun menyampaikan keinginannya ini kepada Oneng, istri tercinta.


Bajuri : Neng, temen-temen abang di kantor dah pada pake bbm

Oneng : Jiaaaah abang, tukang ojeg, tukang bajai, tukang angkot juga udah lama kali pake  bbm


Bajuri : Masa sih neng? kalau gitu abang mau beli juga yah Neng


Oneng : Abang pegimana sih, lah pan bajai kita udah dijual, masa abang mau beli bbm lagi? lagian nih Bang, katanye… ntu bbm mau naik


Bajuri : kata siape Neng?


Oneng : ntu di tipi tipi lagi pada ribut… katanya bbm mau naik…


Bajuri : ya ampun…oneng …oneng… yang abang maksud Blackberry Messenger … bukan BBM yang ntuh…

 
Oneng : !!!!!!!!!! ???????????????

Selasa, 06 Maret 2012

[Catatan] Slank, Cinta Bunda dan Kekuatan Slankers

Cinta itu Air,
Cinta itu Udara,
Cinta itu Berkorban,
Cinta itu Keyakinan,
Cinta itu Kemuliaan,
Cinta itu Agung,
Cinta itu Tuhan ….

Itulah Prolog lagu Ku di Negeri Orang yang terdapat pada Album terbaru Slank yang berjudul ‘ I Slank U”.
Di tengah fenomena boyband, girlband yang marak di negeri ini, dan tenggelamnya band-band yang menurut saya cukup berkualitas,   kehadiran album baru dari band legendaris ini membuat saya berpikir,  mengapa Slank tetap bisa bertahan?
Saya bukan Slankers, tapi saya suka lagu-lagunya Slank. Siapa yang tidak kenal dengan lagu “ I miss You but I hate You, Balikin, Terlalu Manis, Kamu harus Pulang” dan masih banyak lagi lagu lagu lainnya yang sangat booming pada masanya.
Kembali kepada pertanyaan, mengapa Slank bisa bertahan sampai dengan saat ini? Jawabannya mungkin 2 hal ini.
Slank punya Slankers .

Bila di bandingkan dengan personil boy band yang ada sekarang, tampang personil band yang terdiri Bimbim, Kaka, Ivanka, Abdee dan Ridho ini tentu kalah ganteng, kalah keren.
Tapi Slank memiliki penggemar yang fanatik dan kreatif.  Bahkan ketika Bimbim hendak berniat untuk membubarkan Slank, tahun 1996, karena konflik akibat personilnya terlibat narkoba, sebuah surat yang ditulis dengan darah oleh seorang Slanker membuatnya mengurungkan niatnya. Isinya menyeramkan. Dia bersumpah untuk membunuh Bimbim jika Bimbim benar benar melaksanakan niatnya untuk membubarkan Slank.
Sekelompok  anak muda yang kebanyakan remaja,  yang begitu mengidolakan pujaannya ini, tentu akan mengikuti apa yang dilakukan pujaannya. Ketika pujaannya melakukan hal-hal negatif, pastinya mereka akan melihat dan menirunya, untung para personil Slank bisa keluar  dari jerat Obat Langit ini, sehingga sekarang, kelompok anak muda ini bisa diarahkan ke hal-hal yang lebih positif, dan manajemen Slank memberinya wadah Slank Fan Club. Di jajaring sosial juga, kita bisa temukan Slankers Community.

Slank punya Ibu
Sebuah Grup Band, ketika personilnya terkena narkoba, pasti diikuti dengan tenggelamnya grub band tersebut, lihat saja Padi, Kangen Band, Krispatih (meski sudah ganti vokalis, tetap tidak seperti saat Sammy jadi vokalisnya), tapi ini tidak terjadi pada Slank. Slank punya Ibu, Iffet Viceha Sidharta, yang di panggil Bunda Iffet. Sentuhan kasih  seorang Ibu dan perjuangan seorang Ibu yang membuat personil Slank ini berhasil keluar dari Jerat Narkoba.
Walaupun bisa di bilang terlambat, karena Bunda baru mengetahui anaknya menggunakan barang haram tersebut setelah 2 tahun.  Cara Bunda menghadapi  mereka yang tengah kecanduan sampai bisa lepas dari Narkoba pun benar-benar cara seorang Ibu, menurut Bunda, anak yang sedang terkena masalah narkoba, tidak boleh di marahi, harus dengan sabar menghadapinya.
Dan karena tidak mau anak-anaknya kembali ke dunia haram tersebut, Bunda mengambil alih management Slank dan selalu mengikuti kemana  pun Slank pergi.
Peran orang tua, cara pendekatan orang tua kepada anak, sangat menentukan kehidupan seorang anak.
**************
kau tahu rasa di hatiku kangen sama kamu
sejak kita berpisah jauh ku gelisah selalu
bekal rasa di dadaku merindukan kamu
sejak kita jarang bertemu aku resah selalu
aku di negri orang merantau tuk mencari uang
ku di seberang lautan terasa berat tanpa kau seorang
tapi cinta cinta kita takkan terpisahkan
sabar sayang sabar sayang aku nanti pulang
walau kita tidak bersama aku tetap setia
aku di negri orang merantau tuk mencari uang
ku di seberang lautan walaupun berat masih ku bertahan
yakin cinta cinta kita takkan tergoyahkan
aku di negri orang merantau tuk mencari uang
ku di seberang lautan walaupun berat tetap ku bertahan
yakin cinta cinta kita takkan tergoyahkan
Lirik lagu yang pas buat orang orang yang sedang merantau di negeri orang tuk mencari sesuap nasi dan segenggam berlian

[Cerpen] Gelisah Dalam Penantian

Sudah satu jam Tia duduk di depan meja kamarnya, pandangannya kosong terarah pada setangkai Edelweiss yang tersimpan rapi di sudut mejanya.
Yaa…setangkai Edelweiss yang mengenalkan dirinya pada sebuah cinta untuk pertama kalinya dengan  kisah yang takkan pernah dilupakan seumur hidupnya.
Diambilnya telepon genggam yang sedari tadi tergeletak di atas meja, dibukanya kotak masuk pesan, kosong, dilihatnya kotak keluar, sudah 20 pesan dikirimnya hari ini dan statusnya masih tetap pending. Lalu tangannya pun beralih pada sebuah laptop yang ada di hadapannya, dengan hati penuh harap, segera dibuka dan dinyalakan laptop itu. Dan masih dengan perasaan harap harap cemas, Ia menuju kotak masuk email, dan…  tidak ada pesan  baru disana.
Dengan perasaan kecewa, Ia beranjak dari tempat duduknya, dibiarkannya laptop tetap dalam keadaan menyala, lalu Ia menuju tempat tidur yang masih kelihatan baru dan tertata rapi. Dibaringkan tubuhnya, tidak ada sesosok tubuh yang seharusnya menemaninya malam ini.
Masih jelas  terngiang di telinganya, ucapan Dida, lelaki yang baru kemarin resmi menjadi suaminya. “Sayang, tadi Pak Edy telepon, Lusa Ia minta tolong aku menemani rombongan para medis untuk ke lokasi gempa , sayang dah liat beritanya khan?”
“Iyaa, tapi besok khan pernikahan kita …. ”
“Iya, maafin aku ya… aku juga tidak ingin meninggalkanmu… Sabar ya sayang”
Tia pun tak lagi dapat membendung air matanya, dibiarkannya mengalir dan terus mengalir hingga Ia terlelap….
************
Dini hari Tia terbangun, Ia mendengar telepon genggamnya berbunyi, dari nadanya Ia tahu ada pesan baru yang masuk. Jantungnya tiba tiba berdegub kencang, berharap pesan tersebut berasal dari lelaki yang dicintainya, buru buru diambilnya telepon genggam itu dan dibukanya kotak masuk.. “aaaaarggh…hanya dari layanan provider.” Lalu dibukanya kotak keluar, semua pesan masih tetap dalam status pending. Ditekannya tombol  panggilan, dipilihnya nomor yang sudah berpuluh puluh kali ditekannya, hanya terdengar suara wanita yang menjawab panggilan dengan pesan yang sudah sangat dihafalnya.
*********
Pagi pun menjelang, matahari pun sudah memancarkan sinarnya, namun Tia masih terbaring di tempat tidurnya, tak ada keinginan darinya tuk meninggalkan kasur empuknya itu, tubuhnya seakan mati rasa, tak dipedulikan perutnya yang kosong sejak kemarin pagi. Menangis, menangis dan menangis hanya itu yang dilakukannya.

Waktu pun terus berjalan, kabar yang dinantinya belum juga tiba. Tia pun akhirnya pasrah, menyerah pada keputusan Sang Khalik.
Dengan asa yang tersisa, Tia pun beranjak dari tempat tidur, memasuki kamar mandi yang ada di dalam kamarnya, dibiarkannya air dingin menyiram tubuhnya, membasahi rambutnya yang tergerai panjang. Dinginnya air seakan ikut menyirami hatinya yang sedang gundah, semua seakan terasa lebih baik.
Malam pun tiba, matahari sudah kembali ke peraduannya, dinyalakannya televisi, dan dilihatnya berita, namun isi berita membuatnya semakin gelisah, terlebih saat kabar lokasi gempa dimana suaminya ditugaskan dinyatakan belum kondusif. Segera di matikannya televisi, dan  Ia pun kembali terdiam,  benar benar pasrah, berharap dan hanya berharap pada pertolongan Yang Maha Kuasa.
Malam pun semakin larut, namun tiba tiba terdengar suara pintu di ketuk, Tia pun segera menuju ruang depan,  “semoga bukan membawa kabar buruk” bathinya.
Dibukanya pintu, dilihatnya sosok lelaki berdiri depan pintu, wajah Tia  pun berubah, di peluknya lelaki itu, sambil menangis Ia berkata … ” Sayang, kenapa tega melakukan ini sama aku, kemana hape mu?”
Dengan tenang Dida menjawab ” maafin aku sayang, batre habis, aku ga bawa charger, setibanya di perbatasan lokasi, aku diperbolehkan kembali, karena disana sudah ada yang menggantikan tugasku. Karena ingin segera bertemu istriku tersayang, aku meneruskan perjalanan tanpa istirahat, aku sangat merindukanmu sayang, Edelweissku, kekasih hatiku”…..

[Cerpen] Cinta dalam Setangkai Edelweiss

Tak pernah terlintas sedikitpun dalam pikiran Tia, gadis manis berlesung pipit, bila Ia  bisa melangkahkan kakinya keluar dari kota kecil dimana Ia di lahirkan.  Berkali kali Ia menepuk nepuk tangannya untuk meyakinkan bahwa dirinya tidak sedang bermimpi.
Tia diterima di sebuah Perguruan Tinggi Negeri di Bogor melalui seleksi siswa berprestasi di sekolahnya. Dari puluhan siswa yang mendaftar hanya Tia yang lolos seleksi. Dengan bermodalkan hasil menjual sebidang tanah warisan kakeknya Tia pun melunasi semua biaya awal kuliahnya.
“Sisanya kita tabung ya Nak buat biaya kuliahmu semester depan, dan untuk keperluanmu sehari hari, Ayah usahakan mencari penghasilan tambahan, jaga dirimu baik baik dan belajar yang rajin supaya bisa cepet lulus” begitulah pesan Ayahnya sebelum keberangkatannya ke Bogor.
Karena baru pertamakali menginjakkan kakinya di Kampus Biru membuat Tia kebingungan, sambil berjalan, matanya pun berkeliaran mencari gedung tempat penerimaan mahasiswa baru. Berkali kali Ia hampir menabrak tiang penyanggah koridor yang ada di sepanjang jalan di dalam kampus itu, sampai tiba tiba ia mendengar teriakan seorang cowok  “aduuuuuh…. sakit tau” Tia pun baru tersadar kalau kakinya sedang menginjak kaki orang tersebut. “Maaf Mas… Ga liat..”  katanya sambil memasang senyum paling manis. “Makanya kalau jalan liat ke depan jangan tengok sana tengok sini” jawab cowok tersebut masih dengan nada kesal.
“Maaf sekali lagi ya Mas, sekalian nanya boleh ya, kalau gedung penerimaan mahasiswa baru dimana ya?” Tanya Tia.  “Cari sendiri …..” jawab cowok itu sambil meninggalkan Tia yang masih kebingungan. “Buset…jadi cowok kok jutek  amat ya” bisik Tia dalam hati.
Tapi tiba tiba cowok tersebut berbalik dan berteriak “Ehh….. Mba Mba sini! kamu calon mahasiswi baru ya? tuh gedungnya disebelah sana, Mba jalan aja lurus, nanti pas ketemu kantin belok kiri, dari situ Mba liat aja ada dua ruangan yang warnanya biru, nah disitu tempatnya. Hati hati jalannya ya, jangan meleng, ntar diseruduk banteng, dikampus ini banyak binatang buasnya soalnya..”
Lalu setelah mengucapkan terima kasih kepada cowok yang nyebelin itu, Tia pun berjalan mengikuti petunjuk yang diberikan tadi, Ia pun berjalan lurus hingga menemukan sebuah kantin lalu belok kiri. “Hmmm.. kok jalannya koridor gini ya ” bathin Tia, dengan rasa ragu Ia pun tetap berjalan dan menemui dua ruangan yang berwarna biru seperti yang dimaksud oleh cowok tadi. “Sialannnnn…. gue di boongin sama tuh orang, rupanya ini toilet bukannya gedung penerimaan mahasiswa baru “.
Dengan hati yang masih dongkol Tia berjalan menuju kantin, setibanya  disana ia pun memesan  minuman dan bertanya kepada penjaga kantin dimana letak gedung penerimaan mahasiswa baru dan setelah merasa yakin dengan penjelasan  penjaga kantin ia pun membayar minumannya dan segera pergi menuju ke lokasi yang dijelaskan tadi. Ternyata lokasinya masih lumayan jauh, dibutuhkan waktu 15 menit  untuk mencapainya.
Sialnya lagi  urusan pendaftarannya  pun mesti antri, terpaksalah Tia  menunggu giliran, sambil mencari lokasi yang enak untuk duduk, Tia pun mengamati  sekelilingnya, dan tanpa diduga-duga matanya pun tertuju kepada orang yang  telah Ia injak kakinya  dan membalasnya dengan “ngerjain” dirinya. Secara  kebetulan  orang itu pun berjalan  ke arahnya, lalu secepatnya Ia berdiri dan mencoba bersembunyi agar tidak terlihat, sembari tetap memperhatikan orang itu. Hmm…..ternyata  ia memasuki salah satu ruangan yang ada disekitar ruangan pendaftaran itu.
Setelah yakin bahwa orang tersebut telah memasuki ruangan itu, Tia pun segera mendekatinya dan mengamati dari kejauhan, ternyata ruangan itu adalah ruangan khusus untuk mahasiswa Pecinta Alam. Ada niat dalam dirinya untuk mengintip lebih dekat, akan tetapi berhubung antrian sudah mulai sepi, ia pun bergegas menuju ke ruang pendaftran untuk menyerahkan berkas dan dokumen yang diperlukan untuk pendaftaran dirinya sebagai mahasisiwi baru di kampus itu.
Setelah mendapatkan informasi dari petugas penerimaan mahasiswa baru itu bahwa pada tahun ini Orientasi pengenalan mahasiswa baru hanya berupa ceramah dari pembantu rektor mengenai kegiatan perkuliahan saja, dan tidak ada acara perploncoan, hati Tia pun riang gembira,  karena Ia pun tidak menyukai kegiatan Ospek seperti itu. Baginya Ospek hanyalah ajang balas dendam dari senior kepada juniornya.
Begitu urusan pendaftaran selesai, Tia pun meninggalkan kampus, dalam perjalanan menuju tempat kostnya, Ia pun teringat kembali wajah cowok yang nyebelin itu “duuh..kenapa aku jadi mikirin dia ya….ah bodoh amatlah”
**********
Hari pertama kuliah pun dimulai sudah, ada yang berbeda dalam dirinya, kalau biasanya Tia mengenakan pakaian putih abu-abu, kini Ia boleh mengenakan pakaian bebas untuk belajar di kampus. Karena teman-teman kuliahnya pun rata-rata pada cuek, sehingga Ia memilih untuk menyendiri di dalam kampus itu.
Seiring waktu berjalan, Tia pun sudah mulai terbiasa dengan kehidupan barunya menjadi mahasiswi, sehingga Ia berpikir untuk mengikuti kegiatan kampus di luar kegiatan belajarnya.
Di pilihnya kegiatan Pencinta Alam, karena Ia memang menyukai kegiatan tersebut, walaupun Ia tahu kondisi terburuknya Ia harus bertemu kembali dengan cowok nyebelin itu.
*********
Siang itu, usai kegiatan kuliah, Tia memberanikan diri untuk mewujudkan keinginannya mengikuti kegiatan Pencinta Alam, Ia pun berjalan menuju ruangan Pencinta Alam yang pernah dilihatnya dulu. Masih tersimpan rasa penasaran dalam hatinya kenapa cowok nyebelin itu dulu bisa berada di ruangan itu “Masa iya orang ga punya hati seperti dia bisa punya rasa cinta pada alam” gumamnya.
Tiba di tempat yang dituju, Ia melihat suasana di ruangan tersebut tidak seramai dulu, hanya ada seorang cowok yang sedang asyik di depan komputer.
“Permisi… Permisi” Tia berusaha memanggil cowok tersebut tapi tidak ada sahutan dari dalam. Dengan suara lebih keras Tia mengulangi sapaannya berkali kali, sampai cowok yang dimaksud menyadari kehadirannya.
“Siang Kak … maaf, Aku berisik ya…. abis dari tadi di panggil panggil ga ada sahutan sih.  Aku Tia .. Mahasiswi semester 1 di sini, mau daftar ikutan kegiatan Pencinta Alam, gimana caranya yah?” Tia bertanya dengan wajah penuh senyum karena merasa bersalah sudah mengganggu cowok itu.
“Ooh … Tunggu sebentar ya, aku ambilin formulirnya ” jawab cowok itu.
“Makasih Kak..” jawabnya singkat.
“Ini kamu isi dan besok datang jam 2 menemui Mas Dida di sini” kata cowok tersebut sambil menyerahkan selembar kertas kepada Tia.
************
Esoknya sesuai jam yg dijanjikan Tia kembali ke sana, dari kejauhan Ia melihat cowok nyebelin itu pun ada di sana.
“Aduuuh…kenapa tuh orang ada di sana juga…masa bodo ah.. kali ini ga boleh sampe kena di kerjain lagi ya Tia” tekadnya dalam hati.
“Selamat siang Mas, Aku Tia, mau ngembaliin formulir ini, terus katanya disuruh ketemu Mas Dida?” demikian Tia mengawali percakapannya dengan cowok tersebut
“Ooh.. mana sini formulirnya” dan formulir pun berpindah tangan. “Jadi namanya Lystia .. yakin bisa mengikuti kegiatan Pencinta Alam? jalan di jalan yang bagus aja ga becus” kata cowok itu dengan nada sinis.
“Saya akan berusaha Mas… tapi boleh saya bertemu dengan Mas Dida?” kata Tia
“Saya Dida” jawab cowok yang selama ini dianggap nyebelin oleh Tia.
“Uuups… Maaf Mas… ” jawab Tia sambil menahan rasa kagetnya
“Masih niat bergabung dengan kami? Kalau masih mau, kamu harus bisa melewati tugas yang kami berikan, bila lulus, baru kamu  kami terima..”
“Tugasnya apa Mas?” tanyanya nada perlahan.
“Kamu lihat khan, di depan itu ada pahon kapuk, dan kapuk-kapuk tersebut berserakkan di area Taman Koleksi, nah tugas kamu ngumpulin kapuk kapuk tersebut selama 3 hari, hingga beratnya mencapai 1 kg”
“Apaaa Mas ?? Sekilo? Kenapa ga 5 kg sekalian Mas, kapuk khan ringan”
“Mau bantah?” tanya Dida dengan nada agak keras.
“Baiklah Mas..saya akan usahakan, makasih yah .. permisi” dengan lemas dan bercampur rasa kesal Tia pergi meninggalkan ruangan tersebut. “Huuuhh lebay banget sih tuh orang, untungnya aja cakep,hi.hi.hi “
Sementara itu, Iwan yang dari tadi mendengar percakapan mereka langsung menghampiri Dida, ” Gila Lu yee.. pasti Lu pengen ngerjain tuh anak khan”
“Biarin aja, gue pengen liat keseriusan tuh cewek”.
“Alaaah..bilang aja Lu demen..belaga mo ngetest segala, bukan kebiasaan Elu tau..”
“Jiaahh .. kok Elu yang sewot, bilang aja Elu juga demen”
“Anjrittt Lu .. Gue mah udah punya cewek. Ada juga Elu tuh yang jomblo”
“Aaahh…rese Lu..udah sono kerjain tuh tugas lo..”
*********
Perjuangan Tia untuk mendapatkan kapuk-kapuk itu pun di mulai, tidak ada kesulitan untuk mengerjakannya, karena dilakukan setelah kuliah usai. Tia cuek dengan orang orang sekitar yang menganggapnya kurang kerjaaan. Begitu tiba hari ketiga, dimana Tia sudah hampir selesai mengerjakan tugas tersebut tiba tiba hujan turun dengan derasnya, Tia pun panik “walaaaaah….hujaaaan … basah semua deh kapuknya” keluh Tia dalam hati sambil berlari mencari tempat berteduh.
Sementara itu dari balik jendela ternyata Dida memperhatikan apa yang  dilakukan Tia setiap hari.
“Mengapa kamu mirip sekali dengannya?” bathinnya
********
“Hanya ini yang aku bisa kumpulin Mas.. terserah mau diterima atau ngak, yang penting aku sudah berusaha, asal Mas tau aja, Aku melakukan semua ini karena kecintaanku pada Alam, juga keinginanku untuk melihat bunga Edelweiss di puncak gunung sana, Mas pasti kecewa karena Aku tidak bisa memenuhi persyaratan itu, tapi gak apa apa, kalaupun gagal aku terima kok, dan Aku juga sudah mengubur impianku untuk bisa memilki setangkai Edelweiss itu, makasih buat kesempatannya, permisi ” kata Tia sambil menyerahkan kapuk kapuk yang berhasil ia kumpulkan dan segera meninggalkan Dida yang masih terdiam.
Edelweiss… ya karena  setangkai Edelweiss Dida kehilangan Nina, gadis yang memiliki lesung pipit yang sama persis seperti Tia. Nina terpeleset dari tebing saat Ia mencobamemetik sendiri setangkai Edelweiss, karena Dida tidak pernah memberikan bunga impiannya itu.  Tangannya tak mampu untuk meraih tangan Nina saat terjatuh.. Dida pun kehilangan Nina untuk selamanya ….
Sejak saat itu Tia tak lagi pernah  datang ke ruangan Pencinta Alam, Ia berjanji  akan  fokus  pada   pelajarannya, dan menjalani kegiatan  kuliah seperti biasanya.
*********
Hari ini, 14 Februari, tidak ada yang berbeda dengan hari hari lainnya dan sama seperti tahun-tahun sebelumnya, tidak ada bunga ataupun coklat yang diterimanya, hanya sms ucapan valentine dari teman-teman sekolahnya dulu.
“Mba… Mba Tia… ada tamu yang mencari Mba tuh” terdengar suara mbo Nem memanggilnya, Mbo Nem adalah pembantu yang selalu setia memanggil anak anak kost bila kedatangan tamu.
“Iya Mbo, makasih yah” Tia pun keluar kamar dan menemui tamunya..
“Haaah.. Dida? Ngapain orang itu ke sini” kata Tia dalam hati. Masih dengan wajah tidak percaya Tia menemui Dida.
“Hai… Apa kabar? Boleh minta waktumu yah” begitulah Dida memulai percakapannya
Mereka lalu duduk dan Dida pun kembali berbicara “Aku mau minta maaf, tidak seharusnya aku menjadikanmu pelampiasan rasa bersalahku pada seseorang, hanya karena kamu mirip dengannya”
Kemudian Dida mengambil tas dan mengeluarkan sesuatu dari dalamnya  “Ini untukmu, terimalah sebagai permintaan maafku karena aku tidak mau kehilangan gadis manis dan baik sepertimu untuk kedua kalinya” sambil menyerahkan setangkai Edelweis kepada Tia, lalu dengan syahdu Dida berkata “Met Valentine ya, walaupun Aku baru mengenalmu, sejujurnya Aku ingin menjadi orang yang dekat dengan kamu”
Dengan senyum manis dan tanpa berkata apa apa, Tia pun menerima Edelweiss itu, yaa .. setangkai Edelweiss yang sudah lama diimpikannya.
” Aaah… Semoga ini bukan mimpi” katanya dalam hati
***********

[Cerpen] Kekasihku adalah Kekasihnya

Langit masih tampak gelap, padahal jarum jam sudah menunjukkan angka setengah enam pagi, udara dingin yang  masih memaksa masuk dari jendela kamar, membuat diriku semakin enggan beranjak dari pembaringan,  ingin rasanya kusembunyikan kembali tubuhku dibalik selimut dan kulanjutkan mimpi indahku. Tapi tiba-tiba aku teringat pesan Bu Yulis, atasanku, ia memintaku  datang lebih awal hari ini.  Bergegas aku bangkit dan merapikan tempat tidurku, lalu segera menyiapkan diri untuk berangkat ke kantor, aku tidak mau mendengar nyanyian panjang  perawan tua ini hanya karena keterlambatanku.
********
Tepat jam 7 aku sudah tiba di kantor, suasana masih sepi, hanya ada Pak Satpam  yang sudah duduk manis di mejanya. Setelah memberi salam selamat pagi pada Pak Satpam, segera aku menuju ruangan kerjaku, kulihat Bu Yulis pun belum tiba. Masih sempat buat sarapan nih, pikirku, maka  kuambil satu sachet sereal di laci meja dan segera aku menuju pantry.
Sambil membuat sereal, pikiranku kembali pada perjalananku ke kantor pagi ini.  Kemana lelaki paruh baya itu? Biasanya setiap pagi aku melihatnya sedang mencuci motor merah kesayangannya. Ya, seorang lelaki paruh baya yang tinggal di ujung jalan, dan tampaknya Ia tinggal seorang diri, karena tak pernah ku lihat orang lain di rumah itu, selain dirinya.
Andai ku kenal dia, andai benar dia masih single, bakal kujodohkan dengan Bu Yulis, biar perempuan tua itu gak cerewet lagi hihihi .. pikiran iseng pun mulai muncul di kepalaku.
Tidak lama kemudian Bu Yulis tiba, rupanya Ia mau mengajakku ke Jakarta entah untuk keperluan apa.
********
Macetnya Jakarta selalu membuatku bete setiap kali harus menginjakkan kaki di kota ini, perjalanan yang seharusnya bisa ditempuh dalam waktu 45 menit, bisa memakan waktu hampir 2 jam.
Rupanya Bu Yulis mengajakku ke sebuah kantor akuntan publik, dan dengan jelas ku dengar Ia ingin menemui seseorang bernama Hendra saat resepsionis menanyainya.  Kami pun diantarnya ke sebuah ruang tamu di dalam kantor tersebut.
Tidak lama kemudian masuklah seorang laki laki ke dalam ruangan, tersenyum menyambut kehadiran kami, wajahnya tidak asing bagiku, karena laki laki inilah yang setiap pagi kutemui sedang asik dengan motornya.
Pantas pagi ini aku tidak melihatnya, rupanya ia ada di sini, pikirku

Hendra, demikian ia menyebut namanya , dan aku hanya bisa tersenyum, sebenarnya ingin ku bilang, kalau aku ini tetangganya, tapi segera ku urungkan,  Dan tak kukira, tak kuduga, rupanya Ia mengenali aku, terbukti dengan ucapannya, ” Adik ini yang setiap pagi naik becak pergi ke kantor ya
Iya Om nama saya Mira” dengan perasaan lega aku menjawabnya.
Sesuai dengan tujuan awal kedatangan kami, maka Bu Yulis mulai membicarakan keperluannya dengan Om Hendra, sedangkan aku menjadi pendengar dan mencatat hasil pembicaraan tersebut.
********
Perkenalan di kantor itu menjadi awal cerita baru antara aku dan Om Hendra, setiap bertemu pasti kami saling menyapa, bahkan kami pun bertukar nomor hape. Om Hendra ternyata sangat ramah dan cukup terbuka, ia  tidak sungkan menceritakan pengalaman hidupnya kepadaku. Sebuah cerita hidup yang membuat aku kagum padanya.
Selama ini Om Hendra memang hidup sendiri, 4 tahun lalu istrinya meninggal karena Kanker Paru Paru.
Selama 15 tahun menikah mereka tidak dikaruniai seorang anak pun. Berbagai usaha sudah mereka lakukan termasuk program bayi tabung namun semua gagal. Sampai pada akhirnya usaha mereka berhenti karena istrinya tervonis kanker paru-paru.
Selama istrinya sakit, Om Hendra lah yang selalu menemani dan merawatnya, sampai operasional usahanya pun di serahkan kepada adiknya, maka dari  itu sampai sekarang  ia lebih banyak diam di rumah, kecuali bila ada kasus khusus, baru ia datang ke kantor.
Ketika ajal menjemput istrinya, ia  sangat kehilangan, namun  merelakan karena menurutnya, walaupun harus kehilangan, ia merasa istrinya sudah terlepas dari segala sakitnya.
Ketika aku bertanya, mengapa Om Hendra tidak menikah lagi?
Ia menjawab, bahwa Ia tidak bisa melupakan istrinya. Tapi dengan jujur Ia berkata, bahwa sudah 2 tahun  ini Ia sedang dekat dengan seseorang, namun tidak mungkin dapat menikahinya
Kenapa? Begitu tanyaku
Gak apa-apa, jawabnya. Aku pun tidak bertanya lebih lanjut.
Begitu besarnya kah sebuah cinta dan kesetiaan sehingga tidak dapat tergantikan.
Aaah… Mengapa aku semakin mengangguminya, bukan hanya kagum sepertinya, aku mulai menyukainya, padahal lelaki ini lebih pantas menjadi ayahku, daripada menjadi suamiku, apa karena aku tidak punya ayah sejak kecil, sehingga sosok Om Hendra begitu pas denganku. Berbeda sekali dengan Vijay kekasihku….
******
Sudah menjadi kebiasaan, bila jam makan siang, kami selalu pergi ke Mall yang letaknya persis di depan kantor. Selain untuk makan siang, kadang sisa waktu kamu gunakan untuk cuci mata.
Tapi siang ini mengapa tiba tiba mataku seperti melihat Om Hendra sedang berjalan di depanku. Ragu untuk memanggilnya, takut salah orang dan ku putuskan untuk diam saja.
Sambil menunggu makanan datang, iseng aku sms Om Hendra menanyakan apakah benar ia sedang berada di mall yang sama denganku.
Ternyata mataku memang tidak salah, Om Hendra memang sedang disini bersama seseorang yang pernah di ceritakannya dulu.
Penasaran ingin melihat kekasih Om Hendra, aku pun segera menuju restoran tempat Om Hendra makan siang.
Kulihat Om Hendra melambaikan tangannya padaku, tanda ia memberitahu posisinya. Aku pun berjalan ke arahnya, tak ku lihat seorang wanita di sana, hanya seorang lelaki muda seusiaku yang sedang duduk di hadapannya.

Mira ….???

Vijay….???”

Aku pun segera pergi tanpa pamit, berlari bersama runtuhnya rasa kagumku pada Om Hendra. Tentang agungnya cinta, tentang tulusnya kesetiaan yang pernah diceritakannya,  seketika  hancur  berkeping keping bersama kenyataan bahwa kekasihku adalah kekasihnya.

[Cerpen] Aku Sephia Ayah Tiriku

Namaku Wati,  usiaku 20 tahun, aku bekerja di sebuah Pabrik Minuman Ringan di Jakarta sebagai administrasi gudang.   Aku memperoleh pekerjaan ini berkat kemurahan hati  Pak Pras, seorang pria paruh baya, yang tidak pernah ku kenal sebelumnya.

Perkenalanku dengannya berawal di sebuah Restoran, waktu itu, aku yang baru saja datang dari kampung usai menamatkan sekolah SMA, hendak melamar pekerjaan di restoran tersebut. Mungkin karena sempet mendengar perdebatan antara manajer restoran dan pemilik Restoran, soal penerimaan karyawan, membuat Pak Pras kasihan padaku.
“ Dik….. sini Dik ….. “ Ia memanggilku.
“ maaf Pak, Bapak memanggil saya?” jawab ku
“ Iya…. Nama saya Pras, nama Adik siapa?
“ Nama saya Wati , Pak?”
“Adik sedang mencari pekerjaaan? “
“ betul Pak, tadi sebenarnya saya sudah diterima oleh manajer  restoran tersebut sebagai kasir, tetapi ternyata pemilik restoran sudah terlebih dulu menerima orang lain sebagai karyawan tanpa konfirmasi kepada manajer tersebut, sehingga penerimaan saya sebagai karyawan di batalkan”
“oh begitu, boleh lihat surat lamaran kerja yang ada ditanganmu itu? Tanya laki laki paruh baya ini
“ Ini Pak silahkan” kataku sambil menyerahkannya.

Setelah melihat surat lamaran pekerjaan dan riwayat hidupku, Ia pun berkata “ besok kamu datang ke kantor saya, ini alamatnya yah” sambil menyerahkan kartu namanya padaku dan berjalan menuju motor nya yang di parkir tidak jauh  dari tempat kami berbincang.
**********
Keesokan harinya, akupun mendatangi alamat yang tercantum di kartu nama Pak Pras. Tidak sulit mencari beliau karena seluruh karyawan pabrik mengenal Beliau, karena jabatannya sebagai kepala personalia.
‘’Sudah nyampe rupanya, ga susah khan nyarinya” sapa Bapak ini dengan ramah
“Sudah Pak, hanya dua kali naik angkot dari rumah kontrakan saya Pak”
“ Syukurlah, kamu bekerja di bagian gudang ya, pekerjaanmu hanya mencatat jumlah barang yang masuk dari hasil produksi ke gudang. Nanti Pak Joko akan mengajari dan membantu kamu di sana”
“ Iya Pak, terima kasih banyak atas bantuan Bapak”
“ Sama sama, saya harap kamu dapat bekerja dengan baik. Yuuk… saya antar ke gudang”
Kami pun berjalan menuju gudang, setelah mengenalkan aku kepada karyawan bagian gudang lain dan juga kepada pak Joko selaku kepala gudang, Pak Pras kembali ke ruangannya.
Mulai hari itu aku pun mulai bekerja, tidak ada kesulitan buatku untuk beradaptasi dengan lingkungan di pekerjaan ku itu, karena semua karyawan sangat ramah dan saling membantu.
*************
Sore itu di awal bulan, aku pulang lebih malam dari biasanya, karena harus membuat laporan jumlah barang yang masuk ke gudang selama satu bulan. Tampak di kejauhan aku melihat Pak Pras  yang juga baru keluar dari ruangannya  “ aaaaah ….. sudah beberapa hari ini aku tidak melihatnya, terbersit rasa rindu melihat sosok laki laki baik hati ini, dari wajahnya masih tampak jelas sisa ketampanan masa mudanya …, andai aku bisa memiliki seorang suami seperti Pak Pras” gumamku dalam hati.
“ Kalau jalan jangan sambil melamun, nanti kesandung loh”
Suara yang sangat ku kenal ini  menyadarkanku dari khayalan tingkat tinggi tadi.
“ eh … Bapak…. jadi malu, sudah mau pulang juga ya” jawabku sambil tersipu menahan malu
“ iya…  mau ikut saya sekalian? Dari pada naik angkot, khan ongkosnya bisa kamu simpan buat besok, rumah saya searah dengan kontrakanmu kok”
“tapi Pak….”
“ga ada tapi tapi… ayo naik, sambil menyerahkan sebuah helm padaku”
Aku pun naik, dan motor pun melaju, sepanjang perjalanan aku hanya bisa terdiam, dan pikiranku pun kembali pada khayalan untuk memiliki suami seperti Pak Pras.
“ Ini kontrakkanmu khan?  Suara Pak Pras kembali membangunkanku dari lamunan
“iya Pak… mau mampir dulu Pak”
“ hehehe ….. ga usah, sudah malam, saya pamit ya”
“ makasih ya Pak” jawabku mengiringi  kepergian Pak Pras dengan sepeda motornya.
***********
Sejak malam itu aku sering ikut Pak Pras pulang, lumayan buat menghemat biaya hidupku katanya. Aku yang memang hidup seorang diri dengan gaji yang pas untuk hidup tidak menolak tawarannya, apalagi dari seorang Pria yang sangat ku kagumi.
Sampai suatu hari, ketika tiba di kontrakkanku hujan pun turun dengan derasnya, tidak mungkin Pak Pras melanjutkan perjalanan. Akhirnya, untuk pertama kalinya Ia mampir ke rumah petak yang berukuran 3X4 meter ini. Sambil menunggu hujan reda dan di temani secangkir teh manis yang kubuatkan untuknya, Ia pun mulai bercerita mengenai keluarganya.
Ternyata Ia memiliki seorang anak laki laki seusiaku yang saat ini tinggal di Bandung, Istrinya menderita kanker Paru paru sehingga Ia tiap kali harus ijin untuk mengantarnya berobat
“hmmmm…. ternyata itu sebabnya sehingga terkadang aku tidak melihat Bapak ini beberapa hari” bathinku
“ Untung pihak pabrik sangat mengerti keadaan saya, kalau tidak tentulah saya sudah di pecat” ujarnya.
Malam semakin larut, hujan pun masih terus turun dan tidak ada tanda tanda untuk berhenti. Kami pun masih asyik ngobrol, sampai Ia mengatakan “ Wati, sejak pertama saya melihatmu saya sudah menyukaimu, tapi saya sadar, saya sudah tidak muda lagi”
Tersentak aku mendengarnya, semua perasaan bercampur menjadi satu, “ aaaaaah ….. ternyata Bapak ini suka sama aku…. aku juga suka sama Bapak” kataku dalam hati.
Pak Pras mulai memindahkan tubuhnya mendekatiku, aku hanya terdiam, yaaa terdiam dengan jantung yang bedegub kencang, aku juga tidak menolaknya ketika Ia mulai memegang tanganku, memelukku pundakku bahkan mencium bibirku…… karena begitu terbuai pada semua belaiannya aku pun membiarkan setan datang menghampiri sehingga akhirnya kami pun melakukan hubungan yang seharusnya dilakukan hanya oleh suami isteri.
Entah karena kekagumanku padanya, rasa cintaku padanya, aku rela melayaninya di ranjang setiap kali Pak Pras memintanya, yaaaa….. aku rela menjadi Sephia Pak Pras.
*******
Tidak terasa sudah 3 bulan aku menjadi wanita simpanan laki laki pujaaanku ini, sampai suatu hari, aku bingung karena Pak Pras membawaku ke sebuah wilayah yang cukup asing bagiku. Motor pun berhenti di sebuah rumah mungil tapi cukup asri.
“Ini rumah saya, saya sudah menceritakan mengenai hubungan kita kepada Istriku, dan Ia meminta aku membawaku kepadanya, karena Ia ingin melihat wanita yang kelak akan menggantikan posisinya”

Aku hanya terdiam dan mengikuti Pak Pras memasuki rumahnya dan menuju sebuah kamar, ku lihat sesosok tubuh perempuan yang sangat kurus sedang berbaring di tempat tidur. Ku lihat dan kuperhatikan wajahnya….. yaaa….wajah ini sangat tidak asing denganku…walau agak sedikit berbeda karena pipinya sudah tidak berisi lagi. Wajah yang selalu aku lihat hanya dari foto yang di tunjukkan nenek padaku, yaaaa….. dia adalah Ibuku… yang pergi meninggalkanku saat aku berusia 5 tahun setelah bercerai dari ayahku, aku dititipkan pada nenek,  besar dan tumbuh bersama nenek, Ibu hanya mengirimkan surat dan uang untuk biaya hidupku. Karena nenek meninggal, makanya aku memutuskan untuk pergi ke Jakarta mencari Ibu.

Aku berlari menuju tempat tidurnya….tersungkur memohon ampun “ maafkan aku…Ibu….maafkan aku”  hanya itu yang mampu aku ucapkan sambil menangis keras, karena aku sudah menyakiti hatinya, membiarkan diriku menjadi Sephia ayah tiriku sendiri…….