Minimnya informasi yang saya ketahui mengenai asma, sempat membuat saya
bingung dan membiarkan anak saya mendapatkan terapi untuk TBC yang
seharusnya tidak perlu (lihat tulisan saya yang berjudul Ketika Dokter Salah Mendiagnosa Anakku).
Seiring berjalannya waktu dan dengan pengalaman-pengalaman merawatnya
bila sakit, saya pun sudah mulai peka bila anak saya mulai batuk, apakah
batuknya karena asma atau batuk biasa, meskipun seringkali batuk dan
pilek bisa menyebabkan asmanya kambuh. Dari caranya bernafas pun saya
sudah bisa membedakan, apakah asmanya ini mulai mengusiknya atau tidak.
Tanggal 6 Maret lalu, saya membaca sebuah artikel di Health Kompas.com, berjudul anak asma berisiko tinggi terkena Herpes zoster,
disana disebutkan bahwa dari total 277 anak-anak yang tidak memiliki
riwayat cacar, peneliti menemukan bahwa anak pengidap asma 2,2 kali
lebih berisiko mengidap cacar (herpes zoster) ketimbang mereka yang tidak menderita asma. Herpes zoster lebih dikenal cacar air, cacar api adalah penyakit infeksi pada kulit yang disebabkan virus Varicella Zoster.
Artikel ini seolah menjawab pertanyaan saya, mengapa anak saya terkena herpes zoster, padahal saat itu disekolah maupun di lingkungan rumah tidak ada yang sedang menderita penyakit tersebut. Analisa saya saat itu adalah, kemungkinan penyebabnya adalah karena daya tahan tubuh anak saya sangat lemah, ditambah, Ia pernah tertular cacar air pada saat usia 14 hari.
Artikel ini seolah menjawab pertanyaan saya, mengapa anak saya terkena herpes zoster, padahal saat itu disekolah maupun di lingkungan rumah tidak ada yang sedang menderita penyakit tersebut. Analisa saya saat itu adalah, kemungkinan penyebabnya adalah karena daya tahan tubuh anak saya sangat lemah, ditambah, Ia pernah tertular cacar air pada saat usia 14 hari.
Beberapa bulan sebelum menderita Herpes Zoster, anak saya ini juga menderita Gondongan atau Mumps atau Parotitis, yaitu infeksi virus (paramyxovirus)
yang menyerang kelenjar ludah (parotis) diantara telinga dan rahang
sehingga menyebabkan pembengkakan pada bagian leher atas atau pipi
bagian bawah. Seperti halnya kasus herpes zoster di atas,
kemungkinan besar penyebabnya karena daya tahan tubuh anak saya yang
lemah dan saya hanya memberikan imunisasi dasar lengkap, pemberian
imunisasi MMR seharusnya dapat mencegah terinfeksinya virus ini.
Berdasarkan pengalaman saya merawat anak saya ini dan berdasarkan
literatur yang saya baca dan yang sesuai dengan apa yang anak saya alami
(saya mengalami terlebih dahalu, baru menemukan literaturnya) berikut
adalah penjelasan detail mengenai asma pada anak.
Menurut dr Darmawan B Setyanto dari Pusat Asma Anak Sudhaprana Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo, gejala asma yang muncul pada anak berbeda dengan dewasa.
Menurut dr Darmawan B Setyanto dari Pusat Asma Anak Sudhaprana Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo, gejala asma yang muncul pada anak berbeda dengan dewasa.
- Gejala Asma pada anak tidak selalu ditandai dengan sesak dan wheezing (berbunyi ‘ngik’), kadang yang menonjol hanya batuk, tetapi bukan sembarang batuk, melainkan batuk yang membandel, berlangsung lama (dua minggu atau lebih) atau sulit sembuhnya, membaik sebentar lalu timbul lagi, atau timbul berulang dalam selang waktu pendek.
- Batuk asma pada anak mempunyai ciri lain, yakni lebih berat pada malam atau dini hari dan saat bangun tidur. Pada siang hari bisa tidak ada gejala batuk sama sekali, sedangkan pada malam hari batuk demikian hebat. Pada bayi dan anak balita, batuk hebat ini terkadang diikuti dengan muntah berisi lendir.
Kondisi batuk seperti di ataslah yang dialami anak saya. Andai saya
mendapatkan literatur ini beberapa waktu lalu, tentu saya langsung
mencari dokter yang lebih ahli, yang khusus menangani asma pada anak,
sebelum membiarkan anak saya mengkonsumsi obat untuk terapi TBC yang
seharusnya tidak diperlukan.
Masih menurut dr Darmawan, penderita asma tidak boleh diberi antitusif karena penekanan refleks batuk pada asma justru akan merugikan. Batuk asma baru akan mereda jika diberi obat asma.
Hal ini juga yang saya alami, saat saya belum dapat mengenali gejala batuk asma pada anak saya, saya pun pernah memberinya obat batuk, yang terjadi batuk tidak mereda malahan bertambah hebat.
************
Meskipun terlambat, karena anak saya sudah mengkonsumsi obat TBC selama 1 bulan, saya membawa anak saya ke Pulmunolog Anak dr. Nastiti. Dari Beliau saya mendapatkan penjelasan bahwa anak saya tidak menderita TBC, batuk membandel yang di alaminya karena asma.
Masih menurut dr Darmawan, penderita asma tidak boleh diberi antitusif karena penekanan refleks batuk pada asma justru akan merugikan. Batuk asma baru akan mereda jika diberi obat asma.
Hal ini juga yang saya alami, saat saya belum dapat mengenali gejala batuk asma pada anak saya, saya pun pernah memberinya obat batuk, yang terjadi batuk tidak mereda malahan bertambah hebat.
************
Meskipun terlambat, karena anak saya sudah mengkonsumsi obat TBC selama 1 bulan, saya membawa anak saya ke Pulmunolog Anak dr. Nastiti. Dari Beliau saya mendapatkan penjelasan bahwa anak saya tidak menderita TBC, batuk membandel yang di alaminya karena asma.
Sebagian penyebab asma adalah alergi, sehingga dokter tersebut
menyarankan saya untuk menghidari pencetus timbulnya alergi seperti
- Udara Dingin, AC hanya dalam kondisi sejak, dan dijaga kebersihannya. Pencucian Filter AC maksimal 2 minggu sekali dan service AC 2-3 bulan/sekali.
- Menghindari Debu, yang biasanya berasal karpet, kapuk, boneka, bulu hewan, tumpukan buku-buku, tumpukan baju.
- Menghindari Asap Rokok
- Makanan yang di hindari, Es, coklat, snack gurih yang biasa mengandung MSG, mie instans, seafood, tomat dan kacang tanah.
Meskipun sudah semaksimal mungkin menghindari pencetus alergi tersebut
di rumah, namun karena anak saya sudah sekolah, membuat saya tidak dapat
100 % mengawasi dan menjaganya, seperti aktivitas yang berlebihan yang
dilakukan di sekolah, kondisi ruangan kelas yang berdebu dan AC yang
tidak di ketahui kotor atau tidaknya, adanya anak yang tetap bersekolah
meskipun dalam keadaan sakit, seringkali menyebabkan kambuhnya asma anak
saya ini. Hanya memberikan asupan makanan bergizi yang dapat saya
berikan supaya daya tahan tubuhnya membaik.
Asma tidak dapat di sembuhkan, hanya dapat mengendalikannya dengan menghindari pencetusnya.
Kesimpulan yang dapat saya berikan dari hasil proses belajar yang saya peroleh dari kondisi yang dialami anak saya adalah :
- Tidak semua batuk membandel disebabkan karena anak mederita flek paru/TBC, tapi bisa juga karena anak menderita asma
- Bila kita ragu pada diagnosa yang diberikan seorang dokter, tidak ada salahnya kita mencari dokter yang lebih ahli di bidangnya
- Mencari sumber informasi sebanyak mungkin, tapi perlu menjadi sebuah perhatian, internet bukanlah untuk pengobatan melainkan hanya sumber informasi, kita tetap harus mengunjungi dokter, karena pengobatan yang tepat baru dapat diberikan melalui pemeriksaan fisik.
Inilah hasil belajar saya dari apa yang dialami anak saya, semoga hasil belajar saya dapat berguna bagi yang membaca.
sumber informasi disini