Minggu, 08 September 2013

Melepaskan Diri dari Jeratan Hutang

“ kami sediakan kebutuhan uang tunai, untuk berbagai macam kebutuhan, syarat kartu kredit, biaya 1,25%. provisi 0% ”
Kalimat di atas merupakan salah satu contoh SMS yang saya terima dari nomor yang tidak saya kenal dan  hampir setiap hari isi pesan senada masuk ke dalam ponsel saya.
Bagi yang tidak sedang membutuhkan pinjaman, mungkin sms tersebut akan langsung diabaikan, namun bagi yang sedang membutuhkan uang pinjaman, maka sms tersebut seolah menjadi dewa penolong.
Mengajukan pinjaman atau dengan kata lain berhutang merupakan cara yang paling banyak digunakan orang sebagai jalan keluar untuk mengatasi kesulitan keuangan, namun sekaligus menjadi penyebab timbulnya masalah baru karena tidak dapat mengembalikannya.
Apa yang dialami karyawan saya berikut ini mungkin dapat menjadi pelajaran berharga bagi kita untuk bijak mengelola keuangan dan berusaha berhenti berhutang terutama untuk membeli keperluan yang sebenarnya bukan sebuah kebutuhan pokok.
Sebelum bekerja dengan kami, karyawan saya bekerja di sebuah toko yang bidang usahanya sama dengan usaha  kami yaitu sparepart motor.
Menurut ceritanya, setiap kali Ia kekurangan uang untuk mencukupi kebutuhan hidup atau hendak membeli sesuatu, maka Ia akan meminjam dari bosnya dan dibayar dengan sistem potong gaji.  Kegiatan tersebut sudah lama dilakukannya, hingga suatu kali sang bos memintanya untuk membuka kartu kredit atas namanya dan berhasil memperoleh limit kredit yang cukup besar.
Oleh sang bos, kartu kredit tersebut dipinjam dan digunakan untuk mengambil dana tunai. Karena karyawan saya ini merasa memiliki hutang pada sang bos, maka Ia mengijinkan kartu kreditnya untuk digunakan walaupun jumlah dana yang ditarik bosnya lebih besar dari jumlah hutangnya.
Sang bos menggunakan berbagai cara untuk mendapatkan uang tunai karena sedang terlilit hutang yang sangat besar kepada beberapa perusahaan dan perorangan, namun segala upaya yang dilakukan tidak berhasil hingga akhirnya tidak sanggup membayar dan gulung tikar. Tanpa rasa tanggung jawab, bos ini pun melarikan diri entah kemana.
Dengan kaburnya sang bos maka karyawan saya yang digunakan kartu kreditnya ini akhirnya dikejar-kejar oleh pihak Bank untuk segera membayar pinjaman.
Kehilangan pekerjaan dan harus menanggung beban membayar hutang kartu kredit membuatnya sangat bingung tapi tidak putus asa. Namun di tengah keterpurukan ini, ingatan tentang masa lalunya membuatnya bangkit dan menemukan titik balik untuk berubah. Ia harus lepas dari hutang!
” Orang tua saya miskin dan tidak terlalu mementingkan sekolah bagi anak-anaknya, buat mereka yang penting anak-anaknya bisa baca tulis, karena mereka melihat banyak lulusan SD yang berhasil. Sebenarnya saya menyesal karena pengen rasanya ngalamin masa-masa sekolah SMP, SMA. Kadang kalau lagi kumpul dengan teman-teman, mereka bercerita mengenai sekolahnya, saya cuma bisa bercerita sampai  SD saja. Tapi saya bertekad, anak saya harus sekolah tinggi, saya harus bisa menyekolahkannya.” Itulah kalimat yang pernah diucapkan saat kami berdiskusi tentang sekolah anak.
Ia pun datang kepada kami untuk membeli barang dan menjualnya kembali ke bengkel langganan mantan bosnya. Karena sudah mengenalnya dengan baik maka kami mengijinkan untuk menggunakan sistem setoran kepadanya, pagi mengambil barang dan sore hari baru membayar.
Melihat semangatnya saat bekerja, tanggung jawab, kejujuran, sikap yang selalu ceria walau sedang berada pada kondisi yang tidak bahagia, maka akhirnya kami mengambilnya menjadi karyawan.
Lalu bagaimana caranya melunasi hutang kartu kredit?
Dengan niat baik Ia datang ke kantor Bank penerbit dan meminta hutangnya dijadikan cicilan tetap tanpa bunga dan pihak bank pun menyetujuinya.
Karena mengetahui permasalahan yang sedang dihadapi, maka cara kami membantu adalah dengan memberikan sebuah kesempatan yang memacu dirinya untuk bekerja dengan ulet. Selain memberi gaji dan komisi,  kami memberikan sistem penjualan yang memudahkannya untuk menjual kembali barang ke bengkel atau toko, yakni dengan menetapkan harga-harga khusus, yang sekiranya dapat bersaing di pasaran dan Ia tetap memperoleh keuntungan.
Keuntungan yang diperolehnya digunakan untuk memenuhi kebutuhan anak dan istrinya sehari-hari, sedangkan komisi dan gajinya, digunakan untuk membayar cicilan hutang Bank. Dua tahun berjalan seperti itu dan akhirnya hutang pun lunas.
Terbiasa dengan pola kehidupan seperti yang saya sebutkan diatas, maka setelah hutangnya lunas, gaji dan komisinya tidak diambil secara rutin, melainkan tetap disimpan kepada kami dan dihitung setelah beberapa bulan.
Kejadian pahit membuatnya harus bekerja keras untuk membayar beban hutang besar. Ia jera berhutang dan bahkan yang terpikir olehnya adalah menabung untuk masa depan anaknya. Tidak mudah untuk mengubah pola hidup, tadinya terbiasa untuk berhutang, akhirnya berbalik untuk menabung guna menyiapkan masa depan. Dengan komitmen dan kedisplinan dalam pengelolaan keuangan, ia berhasil melepaskan diri dari lilitan hutang dan membangun untuk masa depan keluarga.

Rabu, 23 Januari 2013

Serial Manajemen Keuangan Keluarga - 3

Melakukan pencatatan pada bulan pertama mengatur keuangan sangat bermanfaat untuk dapat menentukan persentase pos-pos pengeluaran, misalnya pada pos pengeluaran rutin dan penting, kita dapat menjumlahkan dan memisahkan pengeluaran wajib dan pengeluaran kebutuhan rumah tangga.

Pengeluaran wajib
  1. Tagihan Listrik, telepon, Air, tagihan keamanan dan tagihan kartu kredit bagi pengguna kartu kredit
  2. Uang Sekolah termasuk kebutuhan sekolah anak lain, seperti uang jajan, uang jemputan, uang les dan keperluan lain
  3. Membayar gaji ART (Asisten Rumah Tangga) bila yang memiliki ART
Pengeluaran Kebutuhan Rumah Tangga
  1. Belanja sehari-hari untuk keperluan makan, minum sehari-hari
  2. Belanja bulanan untuk kebutuhan pakai dan kebutuhan rumah seperti sabun, detergen dan lain-lain.
  3. Biaya sehari-hari untuk keperluan transport dan lain-lain.
Bila dari pencatatan diketahui bahwa :
  1. Total pos pengeluaran untuk masa depan sudah melebihi 30 persen maka kita dapat mulai ‘mengerem’ pengeluaran untuk pos ini dan menahan diri untuk membeli barang-barang yang tidak menjadi kebutuhan
  2. Total pos pengeluaran kebutuhan wajib sangat besar maka kita dapat dengan bijak mengatur pengeluaran kebutuhan rumah tangga sesuai penghasilan, yakni dengan mengatur menu makanan yang lebih bervariasi sesuai jatah belanja namun tetap bergizi.
Selain untuk pos pengeluaran kebutuhan wajib, kebutuhan rumah tangga dan pengeluaran untuk masa depan yang dibayar wajib, kita masih memiliki pos pengeluran Penting dan Tidak Rutin seperti untuk keperluan Refreshing keluarga, untuk servis kendaraan, keperluan bila ada anggota keluarga sakit, keperluan Hari Raya atau keperluan merayakan momen tertentu. Anggaran untuk pos pengeluaran ini sebaiknya langsung disisihkan misalnya dengan menyimpannya menjadi tabungan atau rekening berbeda dan besarnya disesuaikan dengan kebutuhan dan besarnya penghasilan.

Serial Manajemen Keuangan Keluarga - 2

Mengatur berarti menata (menyusun), mengurus sesuatu menjadi teratur. Mengatur keuangan keluarga dapat digambarkan seperti kita menata sebuah ruangan di dalam rumah sedemikian rupa hingga terlihat rapi, terasa nyaman dan penghuninya leluasa untuk bergerak.
Sebuah ruang tidur berukuran 2×3 meter persegi mungkin hanya bisa ditempati satu tempat tidur, satu meja dan satu lemari. Bila kita memaksa untuk menyimpan 2 buah lemari besar di sana, tentu ruangan tersebut akan menjadi sempit , tidak nyaman dan penghuni tidak akan leluasa bergerak. Selain itu bila ada barang lain yang lebih penting untuk diletakkan disana maka tidak ada lagi ruang kosong tersisa, akibatnya kita harus meminjam ruangan lain untuk meletakkannya.
Menata ruangan yang luas mungkin dianggap lebih mudah dibanding ruang yang lebih sempit, namun kenyataannya tidaklah demikian. Merasa memiliki ruangan yang luas terkadang tanpa sadar kita menambah satu per satu barang yang sebenarnya tidak penting ke dalam ruangan tersebut, akibat ruangan menjadi penuh dan tidak teratur.
Ruangan dalam ilustrasi diatas menggambarkan penghasilan yang diterima keluarga dan barang-barang yang ditempatkan di dalam ruangan tersebut menggambarkan pos-pos pengeluaran keuangan keluarga. Agar semua kebutuhan keluarga dapat terpenuhi tanpa harus meminjam atau berhutang, maka manajer keuangan keluarga harus dapat menentukan atau menetapkan peringkat pos-pos pengeluaran sesuai kepentingan dan membaginya sesuai kebutuhan.
Sebelum membahas pos-pos pengeluaran keluarga, ada satu hal yang menurut saya penting namun kadang terlupakan, yakni mengenai kewajiban kita mengembalikan beberapa persen penghasilan yang kita terima kepada Sang Pemberi Rejeki yakni Tuhan Yang Maha Segala-galanya, sebagai wujud rasa syukur dan ketaatan kita kepadaNYA. Menyisihkan untuk mengembalikan KepadaNya sebaiknya menjadi hal pertama yang kita lakukan sebelum membagi penghasilan kita untuk pos-pos lain, karena bila ditunda niscaya uang tersebut akan terpakai untuk keperluan pribadi/keluarga.
Setelah disisihkan untuk tujuan diatas, maka sisa penghasilan akan terbagi ke dalam beberapa pos-pos pengeluaran yang secara garis besar terdiri dari :
Rutin dan Penting
Yang termasuk pos pengeluaran penting dan rutin adalah pengeluaran yang mau tidak mau, suka tidak suka harus kita keluarkan setiap bulan, seperti
  1. Tagihan Listrik, telepon, Air, tagihan keamanan dan tagihan kartu kredit bagi pengguna kartu kredit.

  2. Uang Sekolah termasuk kebutuhan sekolah anak lain, seperti uang jajan, uang jemputan, uang les dan keperluan lain

  3. Belanja sehari-hari untuk keperluan makan

  4. Belanja bulanan untuk kebutuhan pakai dan kebutuhan rumah seperti sabun, detergen dan lain-lain.

  5. Membayar gaji ART (Asisten Rumah Tangga) bila yang memiliki ART

  6. Biaya sehari-hari untuk keperluan transport dan lain-lain.
Penting dan Tidak Rutin
Yang termasuk penting dan tidak rutin adalah biaya-biaya yang harus kita keluarkan namun tidak rutin waktunya dan biasanya besarnya biaya untuk keperluan tidak pasti namun dapat diperkirakan.
1. Keperluan untuk Refreshing keluarga
2. Keperluan untuk servis kendaraan
3. Keperluan bila ada anggota keluarga sakit
4. Keperluan Hari Raya atau keperluan merayakan momen tertentu.
Tidak Penting dan Tidak Rutin
Yang termasuk tidak penting dan tidak rutin adalah pengeluaran yang dikeluarkan berdasarkan keinginan bukan kebutuhan (bersifat konsumtif), seperti mengganti gadget baru, kendaraan baru atau barang-barang konsumtif lainnya. Pengeluaran tidak penting dan tidak rutin akan berubah menjadi penting dan rutin bila cara pembayaran untuk memenuhi keperluaan tersebut menggunakan kartu kredit atau cicilan.

Kepentingan Jangka Panjang
Kepentingan jangka panjang dapat disebut juga keperluan masa depan seperti
  1. Biaya melanjutkan sekolah anak hingga lulus sekolah sesuai kemampuan anak nantinya. Ada beberapa keluarga menyisihkannya dana untuk keperluan ini dengan mengikuti asuransi atau tabungan pendidikan. Bila memilih dengan cara mengikuti asuransi maka pos pengeluaran untuk kepentingan ini berubah menjadi penting dan rutin atau penting dan tidak rutin, karena pembayaran premi biasanya harus dibayar secara rutin baik bulanan, tahunan, semesteran atau kwartalan
  2. Biaya untuk renovasi rumah, membeli rumah atau mengganti/membeli kendaraan baru. Berbeda dengan pos pengeluaran Tidak Penting dan Tidak Rutin, dana yang dikeluarkan untuk keperluan ini memang sudah direncanakan dan baru direaslisasikan setelah dana terkumpul, hingga tidak mengganggu pos-pos pengeluaran yang lain.
Tidak semua orang suka melakukan pencatatan secara detail, namun untuk dapat menentukan besarnya ‘jatah’ untuk masing-masing pos pengeluaran dan menentukan kebutuhan yang dikeluarkan tersebut tergolong pos pengeluaran yang mana maka pencatatan tersebut menjadi hal wajib yang harus dilakukan di bulan pertama mengatur keuangan.

Serial Manajemen Keuangan Keluarga - 1

Secara disadari atau tidak disadari, setiap keluarga memiliki manajemen keuangan keluarga dalam bentuk sederhana, namun siapa yang bertindak sebagai manajer dan bagaimana cara masing masing keluarga mengatur keuangan akan berbeda-beda. Berikut adalah manajemen keuangan keluarga yang berlaku di masyarakat :
  1. Keuangan keluarga diatur sepenuhnya oleh Ibu Rumah Tangga (istri), suami akan menyerahkan seluruh penghasilannya kepada istri untuk dikelola, dan biasanya suami hanya meminta ‘jatah’ untuk keperluan pribadi sehari-hari.

  2. Keuangan keluarga diatur sepenuhnya oleh Kepala Keluarga (Suami), istri hanya akan mendapatkan uang untuk belanja keperluan rumah tangga sehari-hari

  3. Keuangan keluarga diatur bersama, biasanya cara ini berlaku bagi suami istri bekerja dan pengaturan keuangan berlaku berdasarkan kesepakatan pos-pos mana yang menjadi bagian suami dan pos-pos mana yang menjadi bagian istri. Contoh, suami bertanggung jawab untuk membayar uang sekolah, tagihan listrik, air, cicilan mobil/motor dan sebagainya. Sedangkan istri bertanggung jawab untuk belanja kebutuhan hari-hari.
Bila ingin membahas manajeman keuangan keluarga maka kita perlu mengetahui terlebih dahulu mengenai sumber penghasilan yang diterima oleh keluarga, karena beda sumber penghasilan beda juga cara mengaturnya. Menurut sifatnya ada 2 jenis sumber penghasilan, yaitu sumber penghasilan yang bersifat tetap dan sumber penghasilan bersifat tidak tetap.
Sumber Penghasilan Tetap
Disebut tetap karena penghasilan yang diterima bersifat tetap, ada yang tetap dari sisi jumlah dan waktu, namun ada pula yang tetap hanya dari sisi waktu
  1. Tetap dalam jumlah dan waktu, artinya setiap bulan keluarga akan menerima penghasilan dengan jumlah yang sama dan waktu yang sama, contohnya seorang karyawan memiliki gaji Rp. 5 juta per bulan yang diterima setiap tanggal 25. 
  2. Tetap hanya dari sisi waktu, berarti penghasilan diterima setiap bulan di tanggal yang sama, namun besarnya penghasilan setiap bulan tidak sama. Biasanya ini berlaku untuk orang yang bekerja di marketing, yang penghasilannya dihitung berdasarkan komisi.
Sumber Penghasilan Tidak Tetap
Disebut tidak tetap karena besarnya penghasilan yang diterima tidak selalu sama dan waktu penerimaannya pun tidak dapat dipastikan. Contoh yang paling mudah untuk menggambarkan sumber penghasilan tidak tetap ini adalah wirausahawan atau kontraktor.
Untuk dapat menemukan cara mengatur keuangan keluarga berdasarkan sumber penghasilan maka ada baiknya kita mempelajari perilaku para manajer keuangan keluarga dalam mengatur keuangan keluarga yang ada saat ini :
  1. Ada yang melakukan pencatatan pemasukan dan pengeluaran secara terperinci sehingga sang manajer keuangan dapat menghitung besarnya pengeluaran selama satu bulan dan dapat dievaluasi apakah ada pos-pos pengeluaran yang sebenarnya tidak diperlukan.

  2. Saat menerima gaji, ada yang langsung memisahkan sesuai pos-pos pengeluaran, seperti untuk belanja keperluan sehari-hari, untuk keperluan sekolah, untuk membayar tagihan listrik, air dan lain-lain dan sisanya untuk keperluan tak terduga.

  3. Ada juga yang tidak memiliki perencanaan matang, uang dikeluarkan sesuai kebutuhan saat itu, bila gaji tidak mencukupi sampai akhir bulan, maka dana tambahan dikeluarkan dari tabungan. Bila tidak memiliki tabungan, biasanya akan menggunakan kartu kredit.

  4. Dengan alasan praktis tidak perlu membawa uang tunai dan bisa dibayar bulan depan, ada yang lebih senang bertransaksi dengan kartu kredit, dari pembayaran tagihan listrik, telepon hingga belanja bulanan dilakukan dengan kartu kredit. Tidak jarang saya jumpai ada yang memiliki banyak kartu kredit dari bank berbeda-beda dan si pemilik sangat hafal dengan tanggal jatuh tempo masing-masing, jadi penggunaan kartu disesuaikan dengan tanggal jatuh tempo

  5. Ada yang mengumpulkan setiap struk belanja, kwitansi bayaran dan tagaihan dan kemudian direimburst kepada suami, kecuali untuk belanja ke pasar.

  6. Untuk yang berwiraswasta, ada yang melakukan pemisahan keuangan usaha dengan keperluan pribadi/keluarga tapi ada pula yang tidak, semua keperluan langsung diambil dari dana usaha tersebut.