Minggu, 08 September 2013

Melepaskan Diri dari Jeratan Hutang

“ kami sediakan kebutuhan uang tunai, untuk berbagai macam kebutuhan, syarat kartu kredit, biaya 1,25%. provisi 0% ”
Kalimat di atas merupakan salah satu contoh SMS yang saya terima dari nomor yang tidak saya kenal dan  hampir setiap hari isi pesan senada masuk ke dalam ponsel saya.
Bagi yang tidak sedang membutuhkan pinjaman, mungkin sms tersebut akan langsung diabaikan, namun bagi yang sedang membutuhkan uang pinjaman, maka sms tersebut seolah menjadi dewa penolong.
Mengajukan pinjaman atau dengan kata lain berhutang merupakan cara yang paling banyak digunakan orang sebagai jalan keluar untuk mengatasi kesulitan keuangan, namun sekaligus menjadi penyebab timbulnya masalah baru karena tidak dapat mengembalikannya.
Apa yang dialami karyawan saya berikut ini mungkin dapat menjadi pelajaran berharga bagi kita untuk bijak mengelola keuangan dan berusaha berhenti berhutang terutama untuk membeli keperluan yang sebenarnya bukan sebuah kebutuhan pokok.
Sebelum bekerja dengan kami, karyawan saya bekerja di sebuah toko yang bidang usahanya sama dengan usaha  kami yaitu sparepart motor.
Menurut ceritanya, setiap kali Ia kekurangan uang untuk mencukupi kebutuhan hidup atau hendak membeli sesuatu, maka Ia akan meminjam dari bosnya dan dibayar dengan sistem potong gaji.  Kegiatan tersebut sudah lama dilakukannya, hingga suatu kali sang bos memintanya untuk membuka kartu kredit atas namanya dan berhasil memperoleh limit kredit yang cukup besar.
Oleh sang bos, kartu kredit tersebut dipinjam dan digunakan untuk mengambil dana tunai. Karena karyawan saya ini merasa memiliki hutang pada sang bos, maka Ia mengijinkan kartu kreditnya untuk digunakan walaupun jumlah dana yang ditarik bosnya lebih besar dari jumlah hutangnya.
Sang bos menggunakan berbagai cara untuk mendapatkan uang tunai karena sedang terlilit hutang yang sangat besar kepada beberapa perusahaan dan perorangan, namun segala upaya yang dilakukan tidak berhasil hingga akhirnya tidak sanggup membayar dan gulung tikar. Tanpa rasa tanggung jawab, bos ini pun melarikan diri entah kemana.
Dengan kaburnya sang bos maka karyawan saya yang digunakan kartu kreditnya ini akhirnya dikejar-kejar oleh pihak Bank untuk segera membayar pinjaman.
Kehilangan pekerjaan dan harus menanggung beban membayar hutang kartu kredit membuatnya sangat bingung tapi tidak putus asa. Namun di tengah keterpurukan ini, ingatan tentang masa lalunya membuatnya bangkit dan menemukan titik balik untuk berubah. Ia harus lepas dari hutang!
” Orang tua saya miskin dan tidak terlalu mementingkan sekolah bagi anak-anaknya, buat mereka yang penting anak-anaknya bisa baca tulis, karena mereka melihat banyak lulusan SD yang berhasil. Sebenarnya saya menyesal karena pengen rasanya ngalamin masa-masa sekolah SMP, SMA. Kadang kalau lagi kumpul dengan teman-teman, mereka bercerita mengenai sekolahnya, saya cuma bisa bercerita sampai  SD saja. Tapi saya bertekad, anak saya harus sekolah tinggi, saya harus bisa menyekolahkannya.” Itulah kalimat yang pernah diucapkan saat kami berdiskusi tentang sekolah anak.
Ia pun datang kepada kami untuk membeli barang dan menjualnya kembali ke bengkel langganan mantan bosnya. Karena sudah mengenalnya dengan baik maka kami mengijinkan untuk menggunakan sistem setoran kepadanya, pagi mengambil barang dan sore hari baru membayar.
Melihat semangatnya saat bekerja, tanggung jawab, kejujuran, sikap yang selalu ceria walau sedang berada pada kondisi yang tidak bahagia, maka akhirnya kami mengambilnya menjadi karyawan.
Lalu bagaimana caranya melunasi hutang kartu kredit?
Dengan niat baik Ia datang ke kantor Bank penerbit dan meminta hutangnya dijadikan cicilan tetap tanpa bunga dan pihak bank pun menyetujuinya.
Karena mengetahui permasalahan yang sedang dihadapi, maka cara kami membantu adalah dengan memberikan sebuah kesempatan yang memacu dirinya untuk bekerja dengan ulet. Selain memberi gaji dan komisi,  kami memberikan sistem penjualan yang memudahkannya untuk menjual kembali barang ke bengkel atau toko, yakni dengan menetapkan harga-harga khusus, yang sekiranya dapat bersaing di pasaran dan Ia tetap memperoleh keuntungan.
Keuntungan yang diperolehnya digunakan untuk memenuhi kebutuhan anak dan istrinya sehari-hari, sedangkan komisi dan gajinya, digunakan untuk membayar cicilan hutang Bank. Dua tahun berjalan seperti itu dan akhirnya hutang pun lunas.
Terbiasa dengan pola kehidupan seperti yang saya sebutkan diatas, maka setelah hutangnya lunas, gaji dan komisinya tidak diambil secara rutin, melainkan tetap disimpan kepada kami dan dihitung setelah beberapa bulan.
Kejadian pahit membuatnya harus bekerja keras untuk membayar beban hutang besar. Ia jera berhutang dan bahkan yang terpikir olehnya adalah menabung untuk masa depan anaknya. Tidak mudah untuk mengubah pola hidup, tadinya terbiasa untuk berhutang, akhirnya berbalik untuk menabung guna menyiapkan masa depan. Dengan komitmen dan kedisplinan dalam pengelolaan keuangan, ia berhasil melepaskan diri dari lilitan hutang dan membangun untuk masa depan keluarga.

Rabu, 23 Januari 2013

Serial Manajemen Keuangan Keluarga - 3

Melakukan pencatatan pada bulan pertama mengatur keuangan sangat bermanfaat untuk dapat menentukan persentase pos-pos pengeluaran, misalnya pada pos pengeluaran rutin dan penting, kita dapat menjumlahkan dan memisahkan pengeluaran wajib dan pengeluaran kebutuhan rumah tangga.

Pengeluaran wajib
  1. Tagihan Listrik, telepon, Air, tagihan keamanan dan tagihan kartu kredit bagi pengguna kartu kredit
  2. Uang Sekolah termasuk kebutuhan sekolah anak lain, seperti uang jajan, uang jemputan, uang les dan keperluan lain
  3. Membayar gaji ART (Asisten Rumah Tangga) bila yang memiliki ART
Pengeluaran Kebutuhan Rumah Tangga
  1. Belanja sehari-hari untuk keperluan makan, minum sehari-hari
  2. Belanja bulanan untuk kebutuhan pakai dan kebutuhan rumah seperti sabun, detergen dan lain-lain.
  3. Biaya sehari-hari untuk keperluan transport dan lain-lain.
Bila dari pencatatan diketahui bahwa :
  1. Total pos pengeluaran untuk masa depan sudah melebihi 30 persen maka kita dapat mulai ‘mengerem’ pengeluaran untuk pos ini dan menahan diri untuk membeli barang-barang yang tidak menjadi kebutuhan
  2. Total pos pengeluaran kebutuhan wajib sangat besar maka kita dapat dengan bijak mengatur pengeluaran kebutuhan rumah tangga sesuai penghasilan, yakni dengan mengatur menu makanan yang lebih bervariasi sesuai jatah belanja namun tetap bergizi.
Selain untuk pos pengeluaran kebutuhan wajib, kebutuhan rumah tangga dan pengeluaran untuk masa depan yang dibayar wajib, kita masih memiliki pos pengeluran Penting dan Tidak Rutin seperti untuk keperluan Refreshing keluarga, untuk servis kendaraan, keperluan bila ada anggota keluarga sakit, keperluan Hari Raya atau keperluan merayakan momen tertentu. Anggaran untuk pos pengeluaran ini sebaiknya langsung disisihkan misalnya dengan menyimpannya menjadi tabungan atau rekening berbeda dan besarnya disesuaikan dengan kebutuhan dan besarnya penghasilan.

Serial Manajemen Keuangan Keluarga - 2

Mengatur berarti menata (menyusun), mengurus sesuatu menjadi teratur. Mengatur keuangan keluarga dapat digambarkan seperti kita menata sebuah ruangan di dalam rumah sedemikian rupa hingga terlihat rapi, terasa nyaman dan penghuninya leluasa untuk bergerak.
Sebuah ruang tidur berukuran 2×3 meter persegi mungkin hanya bisa ditempati satu tempat tidur, satu meja dan satu lemari. Bila kita memaksa untuk menyimpan 2 buah lemari besar di sana, tentu ruangan tersebut akan menjadi sempit , tidak nyaman dan penghuni tidak akan leluasa bergerak. Selain itu bila ada barang lain yang lebih penting untuk diletakkan disana maka tidak ada lagi ruang kosong tersisa, akibatnya kita harus meminjam ruangan lain untuk meletakkannya.
Menata ruangan yang luas mungkin dianggap lebih mudah dibanding ruang yang lebih sempit, namun kenyataannya tidaklah demikian. Merasa memiliki ruangan yang luas terkadang tanpa sadar kita menambah satu per satu barang yang sebenarnya tidak penting ke dalam ruangan tersebut, akibat ruangan menjadi penuh dan tidak teratur.
Ruangan dalam ilustrasi diatas menggambarkan penghasilan yang diterima keluarga dan barang-barang yang ditempatkan di dalam ruangan tersebut menggambarkan pos-pos pengeluaran keuangan keluarga. Agar semua kebutuhan keluarga dapat terpenuhi tanpa harus meminjam atau berhutang, maka manajer keuangan keluarga harus dapat menentukan atau menetapkan peringkat pos-pos pengeluaran sesuai kepentingan dan membaginya sesuai kebutuhan.
Sebelum membahas pos-pos pengeluaran keluarga, ada satu hal yang menurut saya penting namun kadang terlupakan, yakni mengenai kewajiban kita mengembalikan beberapa persen penghasilan yang kita terima kepada Sang Pemberi Rejeki yakni Tuhan Yang Maha Segala-galanya, sebagai wujud rasa syukur dan ketaatan kita kepadaNYA. Menyisihkan untuk mengembalikan KepadaNya sebaiknya menjadi hal pertama yang kita lakukan sebelum membagi penghasilan kita untuk pos-pos lain, karena bila ditunda niscaya uang tersebut akan terpakai untuk keperluan pribadi/keluarga.
Setelah disisihkan untuk tujuan diatas, maka sisa penghasilan akan terbagi ke dalam beberapa pos-pos pengeluaran yang secara garis besar terdiri dari :
Rutin dan Penting
Yang termasuk pos pengeluaran penting dan rutin adalah pengeluaran yang mau tidak mau, suka tidak suka harus kita keluarkan setiap bulan, seperti
  1. Tagihan Listrik, telepon, Air, tagihan keamanan dan tagihan kartu kredit bagi pengguna kartu kredit.

  2. Uang Sekolah termasuk kebutuhan sekolah anak lain, seperti uang jajan, uang jemputan, uang les dan keperluan lain

  3. Belanja sehari-hari untuk keperluan makan

  4. Belanja bulanan untuk kebutuhan pakai dan kebutuhan rumah seperti sabun, detergen dan lain-lain.

  5. Membayar gaji ART (Asisten Rumah Tangga) bila yang memiliki ART

  6. Biaya sehari-hari untuk keperluan transport dan lain-lain.
Penting dan Tidak Rutin
Yang termasuk penting dan tidak rutin adalah biaya-biaya yang harus kita keluarkan namun tidak rutin waktunya dan biasanya besarnya biaya untuk keperluan tidak pasti namun dapat diperkirakan.
1. Keperluan untuk Refreshing keluarga
2. Keperluan untuk servis kendaraan
3. Keperluan bila ada anggota keluarga sakit
4. Keperluan Hari Raya atau keperluan merayakan momen tertentu.
Tidak Penting dan Tidak Rutin
Yang termasuk tidak penting dan tidak rutin adalah pengeluaran yang dikeluarkan berdasarkan keinginan bukan kebutuhan (bersifat konsumtif), seperti mengganti gadget baru, kendaraan baru atau barang-barang konsumtif lainnya. Pengeluaran tidak penting dan tidak rutin akan berubah menjadi penting dan rutin bila cara pembayaran untuk memenuhi keperluaan tersebut menggunakan kartu kredit atau cicilan.

Kepentingan Jangka Panjang
Kepentingan jangka panjang dapat disebut juga keperluan masa depan seperti
  1. Biaya melanjutkan sekolah anak hingga lulus sekolah sesuai kemampuan anak nantinya. Ada beberapa keluarga menyisihkannya dana untuk keperluan ini dengan mengikuti asuransi atau tabungan pendidikan. Bila memilih dengan cara mengikuti asuransi maka pos pengeluaran untuk kepentingan ini berubah menjadi penting dan rutin atau penting dan tidak rutin, karena pembayaran premi biasanya harus dibayar secara rutin baik bulanan, tahunan, semesteran atau kwartalan
  2. Biaya untuk renovasi rumah, membeli rumah atau mengganti/membeli kendaraan baru. Berbeda dengan pos pengeluaran Tidak Penting dan Tidak Rutin, dana yang dikeluarkan untuk keperluan ini memang sudah direncanakan dan baru direaslisasikan setelah dana terkumpul, hingga tidak mengganggu pos-pos pengeluaran yang lain.
Tidak semua orang suka melakukan pencatatan secara detail, namun untuk dapat menentukan besarnya ‘jatah’ untuk masing-masing pos pengeluaran dan menentukan kebutuhan yang dikeluarkan tersebut tergolong pos pengeluaran yang mana maka pencatatan tersebut menjadi hal wajib yang harus dilakukan di bulan pertama mengatur keuangan.

Serial Manajemen Keuangan Keluarga - 1

Secara disadari atau tidak disadari, setiap keluarga memiliki manajemen keuangan keluarga dalam bentuk sederhana, namun siapa yang bertindak sebagai manajer dan bagaimana cara masing masing keluarga mengatur keuangan akan berbeda-beda. Berikut adalah manajemen keuangan keluarga yang berlaku di masyarakat :
  1. Keuangan keluarga diatur sepenuhnya oleh Ibu Rumah Tangga (istri), suami akan menyerahkan seluruh penghasilannya kepada istri untuk dikelola, dan biasanya suami hanya meminta ‘jatah’ untuk keperluan pribadi sehari-hari.

  2. Keuangan keluarga diatur sepenuhnya oleh Kepala Keluarga (Suami), istri hanya akan mendapatkan uang untuk belanja keperluan rumah tangga sehari-hari

  3. Keuangan keluarga diatur bersama, biasanya cara ini berlaku bagi suami istri bekerja dan pengaturan keuangan berlaku berdasarkan kesepakatan pos-pos mana yang menjadi bagian suami dan pos-pos mana yang menjadi bagian istri. Contoh, suami bertanggung jawab untuk membayar uang sekolah, tagihan listrik, air, cicilan mobil/motor dan sebagainya. Sedangkan istri bertanggung jawab untuk belanja kebutuhan hari-hari.
Bila ingin membahas manajeman keuangan keluarga maka kita perlu mengetahui terlebih dahulu mengenai sumber penghasilan yang diterima oleh keluarga, karena beda sumber penghasilan beda juga cara mengaturnya. Menurut sifatnya ada 2 jenis sumber penghasilan, yaitu sumber penghasilan yang bersifat tetap dan sumber penghasilan bersifat tidak tetap.
Sumber Penghasilan Tetap
Disebut tetap karena penghasilan yang diterima bersifat tetap, ada yang tetap dari sisi jumlah dan waktu, namun ada pula yang tetap hanya dari sisi waktu
  1. Tetap dalam jumlah dan waktu, artinya setiap bulan keluarga akan menerima penghasilan dengan jumlah yang sama dan waktu yang sama, contohnya seorang karyawan memiliki gaji Rp. 5 juta per bulan yang diterima setiap tanggal 25. 
  2. Tetap hanya dari sisi waktu, berarti penghasilan diterima setiap bulan di tanggal yang sama, namun besarnya penghasilan setiap bulan tidak sama. Biasanya ini berlaku untuk orang yang bekerja di marketing, yang penghasilannya dihitung berdasarkan komisi.
Sumber Penghasilan Tidak Tetap
Disebut tidak tetap karena besarnya penghasilan yang diterima tidak selalu sama dan waktu penerimaannya pun tidak dapat dipastikan. Contoh yang paling mudah untuk menggambarkan sumber penghasilan tidak tetap ini adalah wirausahawan atau kontraktor.
Untuk dapat menemukan cara mengatur keuangan keluarga berdasarkan sumber penghasilan maka ada baiknya kita mempelajari perilaku para manajer keuangan keluarga dalam mengatur keuangan keluarga yang ada saat ini :
  1. Ada yang melakukan pencatatan pemasukan dan pengeluaran secara terperinci sehingga sang manajer keuangan dapat menghitung besarnya pengeluaran selama satu bulan dan dapat dievaluasi apakah ada pos-pos pengeluaran yang sebenarnya tidak diperlukan.

  2. Saat menerima gaji, ada yang langsung memisahkan sesuai pos-pos pengeluaran, seperti untuk belanja keperluan sehari-hari, untuk keperluan sekolah, untuk membayar tagihan listrik, air dan lain-lain dan sisanya untuk keperluan tak terduga.

  3. Ada juga yang tidak memiliki perencanaan matang, uang dikeluarkan sesuai kebutuhan saat itu, bila gaji tidak mencukupi sampai akhir bulan, maka dana tambahan dikeluarkan dari tabungan. Bila tidak memiliki tabungan, biasanya akan menggunakan kartu kredit.

  4. Dengan alasan praktis tidak perlu membawa uang tunai dan bisa dibayar bulan depan, ada yang lebih senang bertransaksi dengan kartu kredit, dari pembayaran tagihan listrik, telepon hingga belanja bulanan dilakukan dengan kartu kredit. Tidak jarang saya jumpai ada yang memiliki banyak kartu kredit dari bank berbeda-beda dan si pemilik sangat hafal dengan tanggal jatuh tempo masing-masing, jadi penggunaan kartu disesuaikan dengan tanggal jatuh tempo

  5. Ada yang mengumpulkan setiap struk belanja, kwitansi bayaran dan tagaihan dan kemudian direimburst kepada suami, kecuali untuk belanja ke pasar.

  6. Untuk yang berwiraswasta, ada yang melakukan pemisahan keuangan usaha dengan keperluan pribadi/keluarga tapi ada pula yang tidak, semua keperluan langsung diambil dari dana usaha tersebut.

Kamis, 05 April 2012

[Cerpen] Mama.. Aku Hamil


Malam telah sangat larut, jarum jam sudah menujukkan angka 2 pagi, namun heningnya malam itu belum dapat menenangkan hati Tami. Sebuah bom seakan masih mengganjal di hatinya dan rasanya sulit untuk dijinakkan. Ingin sekali  Ia meledakkannya, agar tak ada lagi beban dihatinya. Namun tak ada tempat yang menurutnya aman untuk dapat meledakkan bom itu.


Menangis hingga air mata terasa kering pun tak dapat melegakan hatinya. Baginya, menceritakan isi hati dengan keluarga atau dengan sahabat hanya akan membuat aib keluarganya ini menyebar tak tentu arah.

Tak pernah terbayang sedikitpun bahwa Dinda, anak gadis semata wayangnya ini akan datang bersimpuh di kakinya, menangis memohon ampun, dan berkata dengan terbata “mama.. aku hamil…”


Dinda yang begitu manis di rumah, tidak pernah ngambek dan berulah yang macam-macam, seakan selalu menuruti apa yang dinasehatinya, harus berbadan dua di usianya yang belum genap 17 tahun.


Tak banyak yang dapat dilakukannya siang tadi…ia hanya mampu terdiam..diam dan diam…. Matanya tak sanggup tuk memandang buah hati yang sedang tersedu menangis, tangannya pun tak sanggup tuk memeluk dan menghentikan tangis anak gadisnya ini,  mulutnya seakan terkunci untuk menghujaninya dengan sejuta makian. Hanya sebuah kalimat yang dapat diucapkannya..”Kembalilah ke kamarmu”

*******


Di kamar sebelah, masih terdengar isak tangis Dinda, sebuah tangisan penyesalan yang tak dapat dihentikannya. Menyesal karena dirinya sudah menyalahgunakan kepercayaan yang diberikan mama Tami kepadanya. Menyesal karena telah membiarkan dirinya terhanyut pada sebuah romantisme semu seperti kisah film-film barat yang pernah ditontonnya.

Semua berawal dari sebuah cincin yang diterimanya, yang bertuliskan namanya dan nama Reva, lelaki yang menjadi kekasihnya. Malam itu, dimalam valentine, saat mama Tami sedang dinas di luar kota, Reva datang ke rumah dengan membawa sebuah cincin dan setangkai mawar merah, dengan sebuah pernyataan cinta tulus dari hatinya, yang membuat Dinda rela menyerahkan miliknya yang paling berharga.

Sebuah pemahaman tentang cinta yang salah dan itu baru disadarinya kini, setelah semuanya terlanjur hancur menjadi bubur. Cinta sejatinya tidak membawa kehancuran, cinta sejatinya tidak menyakiti, cinta sejatinya tidak berteman dengan nafsu.
*******

Langit mulai terang, mentari pun mulai tersenyum tuk membagi sinarnya. Tami pun beranjak dari pembaringannya, kakinya melangkah menuju meja disudut ruang kamarnya, dinyalakannya laptop dan ia mulai membuka email. Jari jemarinya pun mulai bermain dengan huruf huruf yang ada disana, Tami menulis email kepada Tina sahabatnya.

Tina, yang 17 tahun lalu datang menangis ke rumahnya, menangis seperti Dinda. Ia diusir dari rumahnya, karena orang tuanya tidak mau nama baik tercemar akibat Tina hamil diluar nikah.


Masih teringat jelas dalam ingatan Tami, Tina menitipkan bayi perempuannya ini kepada keluarganya setelah 40 hari melahirkan. Tina memilih menetap di Australia dengan alasan Ia ingin melupakan semua kejadian buruk yang menimpa hidupnya.


Bayi perempuan mungil dan cantik, yang kini menjadi putri kesayangannya, yang membuat dirinya berusaha bekerja dengan giat agar dapat membiayai dan menyekolahkannya di sekolah yang layak, walau itu akhirnya membuat dirinya lupa untuk mencari pasangan hidup. Dinda.. ya Dinda bukanlah putri kandungnya, Dinda putri kandung sahabatnya Tina.

********


“Dinda… buka kamarmu…mama mau bicara” Tami menghampiri kamar Dinda setelah Ia selesai membaca email balasan dari Tina.


“Iya Ma.. ” Dinda pun beranjak dan membuka pintu kamarnya.

Kemudian keduanya duduk di atas ranjang kecil Dinda.


“Mulai besok kamu kemasi barang-barangmu, dan nanti mama urus keperluan kepindahanmu, minggu depan kita pindah ke Australi, Tante Tina sudah menyiapkan semua keperluan kita disana”


“Tapi Ma… Reva…”


“Ada apa dengan Reva? Kamu mau menuntut Reva menikahimu? Kamu dan Reva masih terlalu muda untuk menikah. Bukankah Reva juga masih harus menyelasaikan sekolahnya?. Dosa yang kalian buat tidak perlu menghancurkan semuanya, cukup masa depanmu saja yang dikorbankan. Biarkan Reva menyelesaikan sekolahnya. Jika Ia benar-benar mencintaimu, Ia akan serius menjaga masa depannya, dan bila saatnya tiba, Ia akan kembali padamu dan anak kalian”


Dinda hanya terdiam dan tak dapat berkata apa apa. Apa yang diucapkan mama Tami benar, masa depan Reva tidak perlu ikut hancur bersama  masa depannya yang sudah berantakkan.

******


Minggu pagi, Tami dan Dinda sudah berada di dalam Taksi yang membawanya ke bandara. Keduanya hanya terdiam, tak ada yang dibicarakan selama di perjalanan. Keceriaan Dinda selama ini seakan tenggelam bersama datangnya makhluk kecil yang sekarang ada diperutnya.


Di Bandara, di depan pintu keberangkatan, berdiri seorang pemuda tampan dengan wajah muram.
Sejak pukul 7 pagi, Reva sudah menunggu Dinda dan Tami di sana.


“Reva…”
“Dinda.. Tante…, maafkan aku, aku yang menyebabkan semua ini terjadi”
” Sudahlah Reva, semua sudah terjadi, tak perlu disesali karena waktu pun tidak dapat diputar kembali. Tante berharap kamu dapat menjaga masa depanmu dengan baik, demi kamu, demi Dinda dan anak kalian”
” Iya Tante… Aku berjanji”


Kemudian keduanya meninggalkan Reva dengan masa depannya dan melangkah menuju kehidupan baru di negeri orang.

Puisi Patah Hati

 










Hilang…lenyap…sirna dari duniaku
Pergi tanpa pesan…
Beranjak tanpa jejak
Tinggalkan kenangan tanpa impian

Bagai bintang yang tak dapat ku raih
Bagai bulan yang tak dapat ku miliki
Hanya mampu ku pandangi
Hanya mampu ku nikmati

Rasa yang sempat kau berikan
Cinta yang sempat kau tawarkan
Bahagia semu yang pernah kurasakan
Musnah bersama rasa luka di kalbu

Kini semua hancur lebur
Tanpa sisa puing terselamatkan
Semua menjadi serpihan
Terbang terbawa angin yang berhembus kencang

Sebuah kisah telah terukir
Episode demi episode tlah ku lakoni
Kini waktunya kubuka judul baru
Walau hanya dengan asa tersisa

[Puisi] TENTANG CINTA

Cinta…
Kata orang, cinta itu buta
Tapi kataku, cinta harus melihat
Melihat dengan mata
Melihat dengan hati


Cinta…
Kata orang, jatuh cinta sejuta rasanya
Tapi kataku, jatuh cinta itu sakit
Sakit bila hanya bisa mencintai
Sakit bila hanya bisa mengagumi

Cinta….
Kata orang, cinta itu indah
Tapi kataku, cinta itu pengorbanan
Berkorban menahan keakuan
Berkorban menahan rasa

Cinta,
Kata orang cinta tak kenal logika
Tapi kataku, cinta harus berteman dengan logika
Tanpa logika cinta menjadi buta
Tanpa logika cinta hanya mengenal nafsu
Tanpa logika cinta hanya sebatas rasa

Cinta,
Kata orang, cinta tidak harus memiliki,
Tapi kataku, cinta harus memiliki
Tanpa memiliki kita tak dapat menjaganya
Tanpa memiliki kita tak dapat memeliharanya

Cinta,
Kata orang, cinta itu kenangan
Tapi kataku, cinta itu sekarang
masa lalu hanyalah sejarah
masa lalu hanyalah cerita

Cinta sejatinya berteman dengan kesabaran
Cinta sejatinya berteman dengan kebaikan
Cinta sejatinya berteman dengan kemurahan
Cinta sejatinya berteman dengan kelembutan
Cinta sejatinya tidak berteman dengan kemarahan
Cinta sejatinya tidak berteman dengan keakuan
Cinta sejatinya tidak berteman dengan iri hati

Cinta itu luas, seluas samudera
Cinta itu dalam, sedalam lautan
Cinta itu mengalir bagaikan air
Cinta itu nafas kehidupan

Cinta Kepada Tuhan
Cinta Kepada Sesama
Cinta Kepada Bumi
Cinta Kepada Bangsa dan Negara