“ kami sediakan kebutuhan uang tunai, untuk berbagai macam kebutuhan, syarat kartu kredit, biaya 1,25%. provisi 0% ”
Kalimat di atas
merupakan salah satu contoh SMS yang saya terima dari nomor yang tidak
saya kenal dan hampir setiap hari isi pesan senada masuk ke dalam
ponsel saya.
Bagi yang tidak sedang
membutuhkan pinjaman, mungkin sms tersebut akan langsung diabaikan,
namun bagi yang sedang membutuhkan uang pinjaman, maka sms tersebut
seolah menjadi dewa penolong.
Mengajukan pinjaman
atau dengan kata lain berhutang merupakan cara yang paling banyak
digunakan orang sebagai jalan keluar untuk mengatasi kesulitan keuangan,
namun sekaligus menjadi penyebab timbulnya masalah baru karena tidak dapat mengembalikannya.
Apa yang dialami
karyawan saya berikut ini mungkin dapat menjadi pelajaran berharga bagi
kita untuk bijak mengelola keuangan dan berusaha berhenti berhutang
terutama untuk membeli keperluan yang sebenarnya bukan sebuah kebutuhan
pokok.
Sebelum bekerja dengan
kami, karyawan saya bekerja di sebuah toko yang bidang usahanya sama
dengan usaha kami yaitu sparepart motor.
Menurut ceritanya,
setiap kali Ia kekurangan uang untuk mencukupi kebutuhan hidup atau
hendak membeli sesuatu, maka Ia akan meminjam dari bosnya dan dibayar
dengan sistem potong gaji. Kegiatan tersebut sudah lama dilakukannya,
hingga suatu kali sang bos memintanya untuk membuka kartu kredit atas
namanya dan berhasil memperoleh limit kredit yang cukup besar.
Oleh sang bos, kartu
kredit tersebut dipinjam dan digunakan untuk mengambil dana tunai.
Karena karyawan saya ini merasa memiliki hutang pada sang bos, maka Ia
mengijinkan kartu kreditnya untuk digunakan walaupun jumlah dana yang
ditarik bosnya lebih besar dari jumlah hutangnya.
Sang bos menggunakan
berbagai cara untuk mendapatkan uang tunai karena sedang terlilit hutang
yang sangat besar kepada beberapa perusahaan dan perorangan, namun
segala upaya yang dilakukan tidak berhasil hingga akhirnya tidak sanggup
membayar dan gulung tikar. Tanpa rasa tanggung jawab, bos ini pun melarikan diri entah kemana.
Dengan kaburnya sang
bos maka karyawan saya yang digunakan kartu kreditnya ini akhirnya
dikejar-kejar oleh pihak Bank untuk segera membayar pinjaman.
Kehilangan pekerjaan
dan harus menanggung beban membayar hutang kartu kredit membuatnya
sangat bingung tapi tidak putus asa. Namun di tengah keterpurukan ini,
ingatan tentang masa lalunya membuatnya bangkit dan menemukan titik
balik untuk berubah. Ia harus lepas dari hutang!
” Orang tua saya
miskin dan tidak terlalu mementingkan sekolah bagi anak-anaknya, buat
mereka yang penting anak-anaknya bisa baca tulis, karena mereka melihat
banyak lulusan SD yang berhasil. Sebenarnya saya menyesal karena pengen
rasanya ngalamin masa-masa sekolah SMP, SMA. Kadang kalau lagi kumpul
dengan teman-teman, mereka bercerita mengenai sekolahnya, saya cuma bisa
bercerita sampai SD saja. Tapi saya bertekad, anak saya harus sekolah
tinggi, saya harus bisa menyekolahkannya.” Itulah kalimat yang pernah diucapkan saat kami berdiskusi tentang sekolah anak.
Ia pun datang kepada kami untuk membeli barang dan menjualnya kembali ke bengkel langganan mantan bosnya. Karena sudah
mengenalnya dengan baik maka kami mengijinkan untuk menggunakan sistem
setoran kepadanya, pagi mengambil barang dan sore hari baru membayar.
Melihat semangatnya
saat bekerja, tanggung jawab, kejujuran, sikap yang selalu ceria walau
sedang berada pada kondisi yang tidak bahagia, maka akhirnya kami
mengambilnya menjadi karyawan.
Lalu bagaimana caranya melunasi hutang kartu kredit?
Dengan niat baik Ia
datang ke kantor Bank penerbit dan meminta hutangnya dijadikan cicilan
tetap tanpa bunga dan pihak bank pun menyetujuinya.
Karena mengetahui permasalahan yang sedang dihadapi, maka cara kami membantu adalah dengan memberikan sebuah kesempatan yang memacu dirinya untuk bekerja dengan ulet. Selain memberi gaji dan komisi, kami memberikan sistem penjualan yang memudahkannya untuk menjual kembali barang ke bengkel atau toko, yakni dengan menetapkan harga-harga khusus, yang sekiranya dapat bersaing di pasaran dan Ia tetap memperoleh keuntungan.
Keuntungan yang
diperolehnya digunakan untuk memenuhi kebutuhan anak dan istrinya
sehari-hari, sedangkan komisi dan gajinya, digunakan untuk membayar
cicilan hutang Bank. Dua tahun berjalan seperti itu dan akhirnya hutang pun lunas.
Terbiasa dengan pola
kehidupan seperti yang saya sebutkan diatas, maka setelah hutangnya
lunas, gaji dan komisinya tidak diambil secara rutin, melainkan tetap
disimpan kepada kami dan dihitung setelah beberapa bulan.
Kejadian pahit membuatnya harus bekerja keras untuk membayar beban hutang besar. Ia jera berhutang dan bahkan yang terpikir olehnya adalah
menabung untuk masa depan anaknya. Tidak mudah untuk mengubah pola
hidup, tadinya terbiasa untuk berhutang, akhirnya berbalik untuk
menabung guna menyiapkan masa depan. Dengan komitmen dan kedisplinan
dalam pengelolaan keuangan, ia berhasil melepaskan diri dari lilitan
hutang dan membangun untuk masa depan keluarga.