Malam telah sangat larut, jarum jam sudah menujukkan angka 2 pagi, namun heningnya malam itu belum dapat menenangkan hati Tami. Sebuah bom seakan masih mengganjal di hatinya dan rasanya sulit untuk dijinakkan. Ingin sekali Ia meledakkannya, agar tak ada lagi beban dihatinya. Namun tak ada tempat yang menurutnya aman untuk dapat meledakkan bom itu.
Menangis hingga air mata terasa kering pun tak dapat melegakan hatinya.
Baginya, menceritakan isi hati dengan keluarga atau dengan sahabat
hanya akan membuat aib keluarganya ini menyebar tak tentu arah.
Tak pernah terbayang sedikitpun bahwa Dinda, anak gadis semata
wayangnya ini akan datang bersimpuh di kakinya, menangis memohon ampun,
dan berkata dengan terbata “mama.. aku hamil…”
Dinda yang begitu manis di rumah, tidak pernah ngambek dan berulah yang
macam-macam, seakan selalu menuruti apa yang dinasehatinya, harus
berbadan dua di usianya yang belum genap 17 tahun.
Tak banyak yang dapat dilakukannya siang tadi…ia hanya mampu
terdiam..diam dan diam…. Matanya tak sanggup tuk memandang buah hati
yang sedang tersedu menangis, tangannya pun tak sanggup tuk memeluk dan
menghentikan tangis anak gadisnya ini, mulutnya seakan terkunci untuk
menghujaninya dengan sejuta makian. Hanya sebuah kalimat yang dapat
diucapkannya..”Kembalilah ke kamarmu”
*******
Di kamar sebelah, masih terdengar isak tangis Dinda, sebuah tangisan
penyesalan yang tak dapat dihentikannya. Menyesal karena dirinya sudah
menyalahgunakan kepercayaan yang diberikan mama Tami kepadanya. Menyesal
karena telah membiarkan dirinya terhanyut pada sebuah romantisme semu
seperti kisah film-film barat yang pernah ditontonnya.
Semua berawal dari sebuah cincin yang diterimanya, yang bertuliskan
namanya dan nama Reva, lelaki yang menjadi kekasihnya. Malam itu,
dimalam valentine, saat mama Tami sedang dinas di luar kota, Reva
datang ke rumah dengan membawa sebuah cincin dan setangkai mawar merah,
dengan sebuah pernyataan cinta tulus dari hatinya, yang membuat Dinda
rela menyerahkan miliknya yang paling berharga.
Sebuah pemahaman tentang cinta yang salah dan itu baru disadarinya
kini, setelah semuanya terlanjur hancur menjadi bubur. Cinta sejatinya
tidak membawa kehancuran, cinta sejatinya tidak menyakiti, cinta
sejatinya tidak berteman dengan nafsu.
*******Langit mulai terang, mentari pun mulai tersenyum tuk membagi sinarnya. Tami pun beranjak dari pembaringannya, kakinya melangkah menuju meja disudut ruang kamarnya, dinyalakannya laptop dan ia mulai membuka email. Jari jemarinya pun mulai bermain dengan huruf huruf yang ada disana, Tami menulis email kepada Tina sahabatnya.
Tina, yang 17 tahun lalu datang menangis ke rumahnya, menangis seperti
Dinda. Ia diusir dari rumahnya, karena orang tuanya tidak mau nama baik
tercemar akibat Tina hamil diluar nikah.
Masih teringat jelas dalam ingatan Tami, Tina menitipkan bayi
perempuannya ini kepada keluarganya setelah 40 hari melahirkan. Tina
memilih menetap di Australia dengan alasan Ia ingin melupakan semua
kejadian buruk yang menimpa hidupnya.
Bayi perempuan mungil dan cantik, yang kini menjadi putri
kesayangannya, yang membuat dirinya berusaha bekerja dengan giat agar
dapat membiayai dan menyekolahkannya di sekolah yang layak, walau itu
akhirnya membuat dirinya lupa untuk mencari pasangan hidup. Dinda.. ya
Dinda bukanlah putri kandungnya, Dinda putri kandung sahabatnya Tina.
********
“Dinda… buka kamarmu…mama mau bicara” Tami menghampiri kamar Dinda setelah Ia selesai membaca email balasan dari Tina.
“Iya Ma.. ” Dinda pun beranjak dan membuka pintu kamarnya.
Kemudian keduanya duduk di atas ranjang kecil Dinda.
“Mulai besok kamu kemasi barang-barangmu, dan nanti mama urus keperluan
kepindahanmu, minggu depan kita pindah ke Australi, Tante Tina sudah
menyiapkan semua keperluan kita disana”
“Tapi Ma… Reva…”
“Ada apa dengan Reva? Kamu mau menuntut Reva menikahimu? Kamu dan Reva
masih terlalu muda untuk menikah. Bukankah Reva juga masih harus
menyelasaikan sekolahnya?. Dosa yang kalian buat tidak perlu
menghancurkan semuanya, cukup masa depanmu saja yang dikorbankan.
Biarkan Reva menyelesaikan sekolahnya. Jika Ia benar-benar mencintaimu,
Ia akan serius menjaga masa depannya, dan bila saatnya tiba, Ia akan
kembali padamu dan anak kalian”
Dinda hanya terdiam dan tak dapat berkata apa apa. Apa yang diucapkan
mama Tami benar, masa depan Reva tidak perlu ikut hancur bersama masa
depannya yang sudah berantakkan.
******
Minggu pagi, Tami dan Dinda sudah berada di dalam Taksi yang membawanya
ke bandara. Keduanya hanya terdiam, tak ada yang dibicarakan selama di
perjalanan. Keceriaan Dinda selama ini seakan tenggelam bersama
datangnya makhluk kecil yang sekarang ada diperutnya.
Di Bandara, di depan pintu keberangkatan, berdiri seorang pemuda tampan dengan wajah muram.
Sejak pukul 7 pagi, Reva sudah menunggu Dinda dan Tami di sana.
“Reva…”
“Dinda.. Tante…, maafkan aku, aku yang menyebabkan semua ini terjadi”
” Sudahlah Reva, semua sudah terjadi, tak perlu disesali karena waktu
pun tidak dapat diputar kembali. Tante berharap kamu dapat menjaga masa
depanmu dengan baik, demi kamu, demi Dinda dan anak kalian”
” Iya Tante… Aku berjanji”
Kemudian keduanya meninggalkan Reva dengan masa depannya dan melangkah menuju kehidupan baru di negeri orang.


