Kamis, 05 April 2012

[Cerpen] Mama.. Aku Hamil


Malam telah sangat larut, jarum jam sudah menujukkan angka 2 pagi, namun heningnya malam itu belum dapat menenangkan hati Tami. Sebuah bom seakan masih mengganjal di hatinya dan rasanya sulit untuk dijinakkan. Ingin sekali  Ia meledakkannya, agar tak ada lagi beban dihatinya. Namun tak ada tempat yang menurutnya aman untuk dapat meledakkan bom itu.


Menangis hingga air mata terasa kering pun tak dapat melegakan hatinya. Baginya, menceritakan isi hati dengan keluarga atau dengan sahabat hanya akan membuat aib keluarganya ini menyebar tak tentu arah.

Tak pernah terbayang sedikitpun bahwa Dinda, anak gadis semata wayangnya ini akan datang bersimpuh di kakinya, menangis memohon ampun, dan berkata dengan terbata “mama.. aku hamil…”


Dinda yang begitu manis di rumah, tidak pernah ngambek dan berulah yang macam-macam, seakan selalu menuruti apa yang dinasehatinya, harus berbadan dua di usianya yang belum genap 17 tahun.


Tak banyak yang dapat dilakukannya siang tadi…ia hanya mampu terdiam..diam dan diam…. Matanya tak sanggup tuk memandang buah hati yang sedang tersedu menangis, tangannya pun tak sanggup tuk memeluk dan menghentikan tangis anak gadisnya ini,  mulutnya seakan terkunci untuk menghujaninya dengan sejuta makian. Hanya sebuah kalimat yang dapat diucapkannya..”Kembalilah ke kamarmu”

*******


Di kamar sebelah, masih terdengar isak tangis Dinda, sebuah tangisan penyesalan yang tak dapat dihentikannya. Menyesal karena dirinya sudah menyalahgunakan kepercayaan yang diberikan mama Tami kepadanya. Menyesal karena telah membiarkan dirinya terhanyut pada sebuah romantisme semu seperti kisah film-film barat yang pernah ditontonnya.

Semua berawal dari sebuah cincin yang diterimanya, yang bertuliskan namanya dan nama Reva, lelaki yang menjadi kekasihnya. Malam itu, dimalam valentine, saat mama Tami sedang dinas di luar kota, Reva datang ke rumah dengan membawa sebuah cincin dan setangkai mawar merah, dengan sebuah pernyataan cinta tulus dari hatinya, yang membuat Dinda rela menyerahkan miliknya yang paling berharga.

Sebuah pemahaman tentang cinta yang salah dan itu baru disadarinya kini, setelah semuanya terlanjur hancur menjadi bubur. Cinta sejatinya tidak membawa kehancuran, cinta sejatinya tidak menyakiti, cinta sejatinya tidak berteman dengan nafsu.
*******

Langit mulai terang, mentari pun mulai tersenyum tuk membagi sinarnya. Tami pun beranjak dari pembaringannya, kakinya melangkah menuju meja disudut ruang kamarnya, dinyalakannya laptop dan ia mulai membuka email. Jari jemarinya pun mulai bermain dengan huruf huruf yang ada disana, Tami menulis email kepada Tina sahabatnya.

Tina, yang 17 tahun lalu datang menangis ke rumahnya, menangis seperti Dinda. Ia diusir dari rumahnya, karena orang tuanya tidak mau nama baik tercemar akibat Tina hamil diluar nikah.


Masih teringat jelas dalam ingatan Tami, Tina menitipkan bayi perempuannya ini kepada keluarganya setelah 40 hari melahirkan. Tina memilih menetap di Australia dengan alasan Ia ingin melupakan semua kejadian buruk yang menimpa hidupnya.


Bayi perempuan mungil dan cantik, yang kini menjadi putri kesayangannya, yang membuat dirinya berusaha bekerja dengan giat agar dapat membiayai dan menyekolahkannya di sekolah yang layak, walau itu akhirnya membuat dirinya lupa untuk mencari pasangan hidup. Dinda.. ya Dinda bukanlah putri kandungnya, Dinda putri kandung sahabatnya Tina.

********


“Dinda… buka kamarmu…mama mau bicara” Tami menghampiri kamar Dinda setelah Ia selesai membaca email balasan dari Tina.


“Iya Ma.. ” Dinda pun beranjak dan membuka pintu kamarnya.

Kemudian keduanya duduk di atas ranjang kecil Dinda.


“Mulai besok kamu kemasi barang-barangmu, dan nanti mama urus keperluan kepindahanmu, minggu depan kita pindah ke Australi, Tante Tina sudah menyiapkan semua keperluan kita disana”


“Tapi Ma… Reva…”


“Ada apa dengan Reva? Kamu mau menuntut Reva menikahimu? Kamu dan Reva masih terlalu muda untuk menikah. Bukankah Reva juga masih harus menyelasaikan sekolahnya?. Dosa yang kalian buat tidak perlu menghancurkan semuanya, cukup masa depanmu saja yang dikorbankan. Biarkan Reva menyelesaikan sekolahnya. Jika Ia benar-benar mencintaimu, Ia akan serius menjaga masa depannya, dan bila saatnya tiba, Ia akan kembali padamu dan anak kalian”


Dinda hanya terdiam dan tak dapat berkata apa apa. Apa yang diucapkan mama Tami benar, masa depan Reva tidak perlu ikut hancur bersama  masa depannya yang sudah berantakkan.

******


Minggu pagi, Tami dan Dinda sudah berada di dalam Taksi yang membawanya ke bandara. Keduanya hanya terdiam, tak ada yang dibicarakan selama di perjalanan. Keceriaan Dinda selama ini seakan tenggelam bersama datangnya makhluk kecil yang sekarang ada diperutnya.


Di Bandara, di depan pintu keberangkatan, berdiri seorang pemuda tampan dengan wajah muram.
Sejak pukul 7 pagi, Reva sudah menunggu Dinda dan Tami di sana.


“Reva…”
“Dinda.. Tante…, maafkan aku, aku yang menyebabkan semua ini terjadi”
” Sudahlah Reva, semua sudah terjadi, tak perlu disesali karena waktu pun tidak dapat diputar kembali. Tante berharap kamu dapat menjaga masa depanmu dengan baik, demi kamu, demi Dinda dan anak kalian”
” Iya Tante… Aku berjanji”


Kemudian keduanya meninggalkan Reva dengan masa depannya dan melangkah menuju kehidupan baru di negeri orang.

Puisi Patah Hati

 










Hilang…lenyap…sirna dari duniaku
Pergi tanpa pesan…
Beranjak tanpa jejak
Tinggalkan kenangan tanpa impian

Bagai bintang yang tak dapat ku raih
Bagai bulan yang tak dapat ku miliki
Hanya mampu ku pandangi
Hanya mampu ku nikmati

Rasa yang sempat kau berikan
Cinta yang sempat kau tawarkan
Bahagia semu yang pernah kurasakan
Musnah bersama rasa luka di kalbu

Kini semua hancur lebur
Tanpa sisa puing terselamatkan
Semua menjadi serpihan
Terbang terbawa angin yang berhembus kencang

Sebuah kisah telah terukir
Episode demi episode tlah ku lakoni
Kini waktunya kubuka judul baru
Walau hanya dengan asa tersisa

[Puisi] TENTANG CINTA

Cinta…
Kata orang, cinta itu buta
Tapi kataku, cinta harus melihat
Melihat dengan mata
Melihat dengan hati


Cinta…
Kata orang, jatuh cinta sejuta rasanya
Tapi kataku, jatuh cinta itu sakit
Sakit bila hanya bisa mencintai
Sakit bila hanya bisa mengagumi

Cinta….
Kata orang, cinta itu indah
Tapi kataku, cinta itu pengorbanan
Berkorban menahan keakuan
Berkorban menahan rasa

Cinta,
Kata orang cinta tak kenal logika
Tapi kataku, cinta harus berteman dengan logika
Tanpa logika cinta menjadi buta
Tanpa logika cinta hanya mengenal nafsu
Tanpa logika cinta hanya sebatas rasa

Cinta,
Kata orang, cinta tidak harus memiliki,
Tapi kataku, cinta harus memiliki
Tanpa memiliki kita tak dapat menjaganya
Tanpa memiliki kita tak dapat memeliharanya

Cinta,
Kata orang, cinta itu kenangan
Tapi kataku, cinta itu sekarang
masa lalu hanyalah sejarah
masa lalu hanyalah cerita

Cinta sejatinya berteman dengan kesabaran
Cinta sejatinya berteman dengan kebaikan
Cinta sejatinya berteman dengan kemurahan
Cinta sejatinya berteman dengan kelembutan
Cinta sejatinya tidak berteman dengan kemarahan
Cinta sejatinya tidak berteman dengan keakuan
Cinta sejatinya tidak berteman dengan iri hati

Cinta itu luas, seluas samudera
Cinta itu dalam, sedalam lautan
Cinta itu mengalir bagaikan air
Cinta itu nafas kehidupan

Cinta Kepada Tuhan
Cinta Kepada Sesama
Cinta Kepada Bumi
Cinta Kepada Bangsa dan Negara